Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2016

Pemikiran Cak Nun -Emha Ainun Nadjib

"Nggak Ada Nabi Yang Mengaku Alim.." [Think Different Ala Cak Nun - 2]
-

Jujur aku rodok sungkan nulis koyok ngene iki rek. Yang saya takutkan adalah orang menganggap saya ini hebat, pinter ngaji, tahu agama. Ketahuilah mblo, saya ini cuman seorang gentho bosok yang sedang berproses belajar agama. Maka saya sebisa mungkin tidak menyantumkan dalil-dalil biar tidak terkesan ngustadz (tapi pitutur Cak Nun nggak asal ngablak, semua ada dalilnya dan atau melalui proses ijtihad yang panjang). Semoga bisa menjadi bahan renungan dan pembelajaran. Yo wis lah, zuukk mariii..
-------------------------------------------------------------------------

Walaupun seorang ulama atau kyai, tapi Cak Nun selalu berpakaian seperti layaknya orang biasa. Bisa dikatakan ganok bedane karo wong dodol akik, buruh pabrik atau sales kaos kaki.
"“Kalau saya datang dengan berpakaian gamis dan sorban, memang tidak ada salahnya. Cuman saya takut semua orang akan berkesimpulan bahwa saya lebih pandai daripada yang lain. Lebih parah lagi, kalau mereka berkesimpulan bahwa saya lebih alim...Kalau itu tidak benar, itu khan namanya 'penipuan'...!" kata Cak Nun.
"Kalaupun memang benar, apakah akhlak itu untuk dipamerkan kepada orang lain (melalui pakaian)? Tidak boleh kan? Maka semampu-mampu saya, berpakaian seperti ini untuk mengurangi potensi 'penipuan' saya kepada Anda. Anda tidak boleh mendewakan saya, me-Muhammad-kan saya, meng-habib-kan saya, karena saya adalah saya karena Allah menjadikan saya sebagai saya dan tidak karena yang lain. Maka Anda obyektif saja sama saya...” lanjut Cak Nun.
Menurut Cak Nun, seorang ulama harusnya bisa berpakaian yang sama dengan pakaian umatnya yang paling miskin. Cak Nun tidak mempersalahkan orang yang bergamis dan berserban. Malah salut sama mereka yang menunjukan kecintaannya pada Rasulullah dengan meniru persis apa yang ada di diri Rasul.
Tapi perlu diketahui bahwa baju Rasulullah tidak sebagus dan sekinclong yang dipakai kebanyakan orang sekarang. Baju Rasulullah sendiri ada 3 jenis : yang dipakai, yang di dalam lemari dan yang dicuci. Dan semua orang Arab di jaman nabi, model pakaiannya seperti itu. Nggak cuma Nabi Muhammad..;Abu Jahal, Sueb, Sanusi, Atim dan orang Arab lainnya, model klambine koyok ngono iku. Jadi sebenarnya sunnah Rasul yang paling mendasar adalah Akhlaknya bukan kostumnya.
Orang yang disukai Tuhan adalah orang yang menyebut dirinya buruk, biso rumongso, nggak rumongso biso. Orang yang diragukan keihklasannya adalah orang menyebut dirinya baik. Semua nabi mengaku dirinya dzolim : "Inni Kuntu Minadzolimin"(aku termasuk orang yang dzolim). Nggak ada nabi yang mengaku dirinya sholeh. Kalau ada orang yang mengaku paling benar atau alim, langsung tinggal mulih ae...ndang baliyo sriii..!
"Kalau sama Tuhan kita harus 100%, kalau kepada ilmu kita, cukup 99%. Seluruh yang saya ketahui dan yakini benar itu belum tentu benar. Maka saya tidak mempertahankan yang saya yakini benar karena mungkin mendapatkan ilmu yang lebih tinggi." kata Cak Nun.
Karena itulah saat bersama jamaahnya, Cak Nun selalu memposisikan dirinya sama, sama-sama belajar. Dan Cak Nun sendiri lebih suka pada jamaah yang sedang berproses daripada yang sudah ahli ibadah. Karena itu lebih tepat sasaran. Bukan pengajian pada orang yang sudah ngerti Al Quran, bukan pengajian yang menyuruh haji orang yang sudah berhaji, menyuruh ngaji orang yang sudah ngaji tiap hari, menyuruh orang shalat yang sudah shalat, dst.
"Tidak apa-apa kalau ilmu agamamu masih pas-pasan, itu malah membuatmu menjadi rendah hati. Banyak orang yang sudah merasa tahu ilmu agama, malah menjadikannya tinggi hati, " begitu pesan Cak Nun.
"Kalau saya kadang bicara pakai bahasa Jawa, jangan dibilang Jawasentris..saya cuman berekspresi sebagai orang Jawa..saya lahir dan dibesar di Jawa..diperintah Tuhan jadi orang Jawa...maka saya mencintai dan mendalami budaya saya..siapa bilang Jawa itu tidak Islam..kalau saya ayam saya nggak akan jadi kambing..kalau anda kucing jangan meng-anjing-anjing-kan diri..Kita memang disuruh Bhineka (berbeda-beda) kok..!"
Banyak orang salah kaprah menyebut Cak Nun sebagai penganut kejawen. Kejawen ndasmu... 'Software' Cak Nun lebih canggih karena laku tirakat luar biasa yang dilakukan sejak kecil. (Laku tirakat yang tidak bertujuan untuk menguasai ilmu hitam koyok mbahmu mbiyen). Sehingga beliau waskito, mempunyai sidik paningal, mempunyai pandangan yang tajam dan jernih soal kehidupan.
Little bit wagu kalau ada orang Jawa (atau Indonesia) yang malah membangga-mbanggakan budaya Arab atau Barat. Benci kebaya tapi nggak ngasih solusi bagaimana kebaya bisa Islami. Ingat : Jowo digowo, Arab digarap dan Barat diruwat.
-------------------------------------------------------------------------
Cara dakwah Cak Nun hampir mirip dengan dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga. Satu-satunya Wali yang mengerti bahwa dakwah harusnya digarap secara kultural dan strategi ke-Jawa-an, karena wilayah dakwahnya ada di Jawa. Begitu juga Cak Nun dalam dakwahnya yang berpartner dengan kelompok musik Kyai Kanjeng pimpinan Nevi Budianto.
Ada cerita ketika Cak Nun dan Kyai Kanjeng bertemu dengan Yusuf Islam (Cat Stevens) seorang penyanyi pop lawas di London. Yusuf Islam yang Mualaf ini heran, dipikirnya seorang muslim itu diharamkan main musik. Rupanya mas Yusuf ini mengartikan ayat (hadits) secara harfiah atau tekstual. Tahu khan bunyi hadits-nya? sip, pinterrr.
Yusuf Islam ditanya sama Cak Nun, " Awakmu mrene numpak opo mas.?"
"Numpak montor cak..." jawab Yusuf Islam.
"Seperti mobil, musik itu netral, tidak ada agamanya, bisa dipakai sebagai kendaraan ke surga atau ke neraka.....bermusik boleh saja, asalkan tujuannya untuk mengagungkan Allah. Masjid pun kalau untuk memusuhi Allah, justru jadi sarana masuk neraka, " jelas Cak Nun yang menggunakan musik Kyai Kanjeng sebagai kendaraan untuk berdakwah.
"Oalaa..ngono yo cak,..yo wis suwun..see you tomorrow, " akhirnya mas Yusuf pun melanjutkan kegiatan musiknya sampai sekarang. Semprul, gara-gara tafsir harfiah, karier musiku rusak mblo, begitu mungkin batin Yusuf Islam.
Bukan musiknya yang haram tapi musik yang apa, bagaimana dan untuk apa. Hidup manusia tak bisa lepas dari musik. Unsur musik itu : bunyi, nada dan irama. Kalau bunyi dilarang, awakmu nek ngising ojok sampek ngeden...!. Manusia bicara pun pakai nada, tempo dan irama. Nada omongan Jawa berbeda dengan orang Batak atau suku lain. Saat berjalan pun, sadar atau tidak sadar, pakai irama dan tempo. Dan seterusnya...(Sori saya nggak memperpanjang soal ini...bakalan bisa jadi berlembar-lembar tulisan...ndas mumet mblo.)
-------------------------------------------------------------------------

Cak Nun tidak pernah menempuh pendidikan (formal) yang tinggi. Pendidikannya hanya sampai semester 1 Fakultas Ekonomi UGM. Tapi Cak Nun tampil dengan cerdas dan meyakinkan dalam seminar-seminar berdampingan dengan nama-nama top markotop, bergelar akademik tertinggi. Yang sekolahnya jauh di Amrik sana. Malah Cak Nun yang selalu lebih ‘bintang’ dari siapapun di forum-forum tersebut. Profesor pun kadang minder kalau 'diadu' sama Cak Nun dalam sebuah dialog kebudayaan atau hal yang lain.
Satu-satunya orang yang diakui Cak Nun sebagai guru adalah Umbu Landu Paranggi. Seorang sufi (begitu Cak Nun menyebutnya) yang banyak membimbing Cak Nun menemukan makna dan hakikat hidup melalui sastra di 'universitas' Malioboro. Walau Umbu beragama Marapu, agama asli Sumba, itu tidak menjadikan halangan Cak Nun untuk terus menimba ilmu darinya.
Ilmu tidak selalu diperoleh dari guru, ustadz, kyai, ulama atau ahli agama. Kebenaran bisa datang dari siapa saja. Seorang bajingan bisa saja membuka mata hatimu pada sebuah hidayah. Seorang ulama bisa saja membuatmu ‘kerdil’ dengan ilmu pengetahuan dan keyakinan yang kamu dekap erat. Yang membuatmu jadi menutup diri pada ilmu dan pengetahuan yang ada di luar sana. Yang kamu anggap bertentangan dengan keyakinanmu.
Belajar boleh pada apa dan siapapun. Nggak masalah mempelajari Hitler, Che Guevara, Fidel Castro dan lainnya. Selama kita dewasa, kita nggak akan gampang 'masuk angin' oleh kalimat kayak apapun. Yang penting nggak mudah terseret untuk menyalahkan atau membenarkan. Ambil saja makna dan manfaatnya. Simpan yang baik, tendang jauh-jauh yang mblendes.
"Saya merasa bersyukur karena saya dilindungi Tuhan sehingga dihindarkan dari sekolah yang saya masuki. Selalu diusir oleh sekolah-sekolah tadi . Itu karena desakan untuk meneliti diri saya sangat besar. Dan itu diganggu oleh guru-guru saya, " kelakar Cak Nun serius (kelakar kok serius..ya'opo se rek).
Kalau kita cermati saat bayi baru lahir. Kok si bayi ini menggerak-gerakan mulutnya, bisa tahu tempat dan caranya menyusui. Maka sebenarnya pendidikan itu jangan ge-er, guru itu tidak bisa mengajari orang, guru itu bisanya menemani. Agar murid punya bahan dalam rangka meneliti dirinya sendiri. Kalau kita tidak tahu diri kita ini siapa, bagaimana kita tahu kemampuan kita.
Kalau nggak tahu kita ini kiper apa penyerang, maka saat di lapangan sepakbola, kita bakalan kebingungan, aku iki lapo nang kene..? Kalau kucing jangan diajari menggongong. Kalau kambing jangan diajari terbang. Maka kenali dirimu, barang siapa mengenali dirinya sesungguhnya ia mengenali Tuhannya.
Kalau kamu bernama Paimo. Apa kamu itu memang Paimo? Itu khan nama yang diberikan bapakmu. Kalau kamu menamai dirimu sendiri, pasti bukan Paimo. Jadi dirimu itu bukan Paimo, bukan Markeso, bukan semua itu. Dirimu dijadikan tertutup. Begitu kamu punya orang tua, begitu masuk sekolah TK sampai kuliah..kamu ditutupi. Tugas sekolah adalah membuka tabir siapa dirimu, memberikan alat supaya mengenal dirimu. Sekolah malah menutup-nutupi dan malah ditambahi sarjana anu, ditambah doktor, ditambah kepala dinas, dsb.
"Kamu itu harus jadi tuan, sekolah itu alat anda, jangan sampai diperalat sekolah. Andai kamu perlu ijazah, oke no problem..ikutilah aturan sampai mendapatkan ijazah. Tapi tidak ada hubungannya dengan cari ilmu. Kalau cari ilmu ya banyak tempatnya, tidak hanya di sekolah. Kuliah itu mencari ijazah untuk membahagiakan orang tuamu. "
Jadi jangan salah niat. Kalau niatnya mencari ilmu, goblok koen mblo..! Kita bersekolah itu biar punya sertifikat buat mencari pekerjaan. Sekolah itu tidak mengenal Tuhan. Tuhan tidak diakui secara akademis. Karena Tuhan tidak bisa diteliti, didata, dianalisis dan disimpulkan. Segala sesuatu yang tidak memenuhi persyaratan akademis (nggak ilmiah) itu tidak diterima. Jadi semua universitas itu sebenarnya atheis...!
Pastikan anda tidak terjajah oleh dunia pendidikan. Penting mana anda sekolah atau belajar? Anda 'diperalat' sekolahan atau anda 'memperalat' sekolahan? Anda bergantung pada sekolah ataukah digantung oleh sekolahan? Terhadap pendidikan, jadikan anda subyek dari sekolahan, bukan obyek sekolahan.
Alat kejahatan yang paling canggih adalah aturan-aturan, maka bikinlah aturanmu sebelum kamu dikalahkan orang lain dengan menggunakan aturan dia.
"Kamu itu sekarang diatur oleh yang membuat sekolahan..kamu seharusnya nyantri tapi kamu dikasih aturan : nyantri itu tidak ada masa depannya, yang bermasa depan itu sekolah. Dan sekolah mempunyai aturan yang lebih detail lagi, bahwa orang harus jadi S1, S2.." kata Cak Nun di depan santri-santri NU suatu kali.
Pendidikan itu tujuannya sederhana, biar kita tidak kesasar saat kembali ke Tuhan. Maka teruslah belajar agar tidak kesasar. Sebenarnya tidak sekolah itu lebih baik tapi tetap ente harus sekolah mblo..!. Karena begitu sekolah kamu lupa dirimu, ketutupan. Begitu kamu sarjana, kamu pikir kamu itu sarjana. Sarjana itu bukan hakikat, bukan wujud, bukan kasunyatan. Sarjana itu cuman kartu parkir. Maka niatkan sekolah untuk membahagiakan orang tuamu. Ngono ae wis dan itu adalah motivasi yang paling tinggi. Cepatlah lulus biar orang tuamu bahagia. Beressss.
-------------------------------------------------------------------------
Cak Nun adalah seorang 'pejalan sunyi'. Beliau 'out of the box' dari semua hiruk pikuk duniawi. Sekarang tidak pernah mau tampil di media nasional. Hanya mau tampil di TV lokal, itu pun bukan keinginan Cak Nun. Tapi media yang datang, merekam event dan menyiarkannya.Tanpa transaksi, karena memang tujuannya sodaqoh . "Saya nggak mau diatur media." kata Cak Nun.
Cak Nun bukan NU juga bukan Muhammadiyah atau yang lainnya. Beliau orang yang fleksibel, bisa menempatkan dirinya di semua kalangan dan aliran. Malah kalangan dan aliran tertentu yang tidak bisa menerima Cak Nun. Menurutnya, agama tidak dianjurkan untuk di-lembaga-kan. Yang penting sebisa mungkin akhlak kita seperti Rasulullah.
Cak Nun tidak pernah jadi anggota sebuah organisasi atau partai politik. Kalau beliau jadi ketua dewan syuro SAR Jogja, itu karena diminta dan alasan kemanusiaan yang nggak mungkin ditolak. Pernah juga jadi anggota ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) atas permintaan BJ. Habibie yang berjanji akan menyelesaikan kasus Kedungombo yang ditangani Cak Nun. Tapi ternyata janji tinggalah janji, Cak Nun pun keluar dari ICMI.
"Saya tidak berpolitik dan jangan sampai ada politisi Indonesia yang boleh masuk dalam pikiran saya, apalagi dalam hati saya, karena syarat rukunnya tidak terpenuhi sama sekali..!" tegas beliau.
"Ahmaq adalah orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu..orang yg tidak mau mendengarkan, memikirkan dan mempertimbangkan pendapat-pendapat orang lain. Demokrasi di Indonesia adalah salah satu bentuk dari ke-ahmaq-an. sudah berkali-kali tertipu dan menjadi korban, tapi tetap dipakai juga.." kata Cak Nun.
Cak Nun sendiri nggak suka dengan demokrasi (endonesah). Baginya demokrasi adalah diktator mayoritas. Yang menang adalah yang mayoritas (suara terbanyak), bukan yang benar. Politik kita adalah politik yang tidak mungkin melahirkan pemimpin sejati. Kerikil bisa ditempatkan di maqam-nya berlian, begitu juga sebaliknya. Orang sehebat apapun tidak akan pernah menjadi apa-apa kalau tidak ikut Parpol.
Cak Nun juga menganggap kampanye partai di Indonesia itu aneh. "Kalau ada partai kampanye di depan kader partainya sendiri, itu namanya onani..!"
Partai itu seharusnya kampanye kepada partai yang lain. Kampanye kok di depan anggotanya yang jelas sudah tahu persis misi dan tujuan partai tersebut. Menurut Cak Nun, jargon Pemilu-pun juga salah kaprah (langsung, umum, bebas dan rahasia). "Bebas kok rahasia..kalau rahasia ya nggak bebas..! Ya'opo se rek."
Karena sikapnya yang indepeden itulah Cak Nun sempat dicap sombong oleh sebagian kalangan. Cak Nun menanggapi hal itu dengan santai :
"Saya memang sombong. Harus itu! Sombong kepada dunia itu wajib hukumnya. Yang tidak boleh itu sombong kepada Tuhan. Tapi, kepada dunia, kepada popularitas, kepada semua yang ada di dunia, kepada uang, harta benda, anda harus sombong! Kalau tidak, anda hanya akan jadi budak dunia...!"
-------------------------------------------------------------------------
Sementara ngene disik...kapan-kapan disambung maneh mblo....
Kalau ada sesuatu yang nggak paham, solusinya adalah kita belajar memahami. Kalau ada sesuatu yang tidak setuju, solusinya adalah mencoba menghayati dan menerima sesuatu yang tidak sama. Jangan lupa, bahwa kamu juga tidak sama dengan dia. Jangan berpikir kamu tidak setuju pada sesuatu hal, sesuatu hal itu juga nggak setuju dengan kamu..! Melihat uler jijik, padahal ulernya juga jijik lihat kamu. Rumangsamu..
Nggak perlu teriak : liberal! ;apalagi ngafir-ngafirno. Pikiren nang awakmu dewe, opo uripmu iku wis bener? Nek pancen Cak Nun kafir utowo liberal, terus koen kate lapo..?
Cak Nun cuman berusaha menyumbangkan gagasan dan pemikirannya untuk menunjukkan jalan lain bagi kita yang sudah beku dan merasa tak lagi menemukan cakrawala yang suejukk. Cak Nun memberikan kita sebuah alternatif cara menilai, dan menyikapi hidup. Hanya itu..........................(bersambung)
Robbi Gandamana, 10 Juli 2015
(Sumber : Mocopat Syafaat, Kenduri Cinta atau pengajian maiyah yang lain, mbah google, buku, dsb)

Minggu, 29 November 2015

Seorang Teman-pun Takkan Mau Berbagi Laramu

“Seorang teman-pun takkan mau berbagi laramu. Seorang kekasih-pun takkan mau menanggung dukamu. Seorang kerabat-pun takkan mau menggantikanmu untuk tak tidur malam.
Cukup perhatikan dirimu, jaga, manjakan dan jangan membebaninya dengan berbagai permasalahan melebihi kemampuanmu.
Pastikan bahwa saat kau hancur, takkan ada yang mampu memperbaikinya selain dirimu sendiri. Saat kau kalah, takkan ada yang mampu menolong selain tekadmu. Kemampuanmu untuk berdiri kembali tak dimiliki oleh selainmu.
Jangan mencari nilai dirimu lewat pandangan orang lain, carilah lewat suara hatimu. Jika hatimu merasa ringan, kedudukanmu telah terangkat. Dan jika kau telah mengenal dirimu, maka jangan terusik akan apa yang di katakan orang lain tentangmu.
Jangan terlalu memikirkan dunia, karena ia milik Allah. Jangan terlalu memikirkan akan rejeki, karena ia dari Allah. Jangan terlalu memikirkan masa depan, karena ia berada di tangan Allah. Pikirkan hanya satu hal, yaitu bagaimana kau dapat membuat Allah ridha.
Karena saat kau membuat Allah ridha, maka Dia akan ridha padamu, merelakanmu, mencukupimu dan membuatmu tidak membutuhkan pada yang lain.
Jangan putus asa akan kehidupan yang membuat hatimu menangis. Katakan, duhai Tuhan gantikanlah dengan kebaikan di dunia dan akhirat. Karena kesedihan akan sirna dengan bersujud, dan kebahagiaan akan datang dengan berdoa.
Allah takkan lupa dengan sebuah kebaikan yang telah kau lakukan, kesedihan yang telah kau halau, serta mata yang menangis lalu kau menghiburnya. Hiduplah dengan sebuah prinsip; jadilah seorang yang baik walaupun kau tak menerima balasan setimpal. -Berbuat baiklah- bukan karena mereka, tapi karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (ARN)

Sumber : JAKARTA, ARRAHMAHNEWS.COM

“ketahuilah! ketika kamu menjadi sahabatku dan semua manusia mengatakan padamu, ‘kamu orang yang berperangai jelek’. janglah bersedih dengan apa yang mereka katakan kepadamu. dan jika mereka mengatakan padamu, ‘kamu orang yang berakhlak mulia’. jangan pula gembira dengan perkataan itu, akan tetapi lihatlah dirimu dalam Quran!
jika kamu melihat dirimu harus mengamalkan perintah-perintah Quran, maka apa saja yang diperintahkan agar ditinggalkan, maka tinggalkanlah, dan apa saja yang diperintahkan agar diamalkan, maka amalkanlah dengan suka cita. takutlah atas balasan-balasan yang menakutkan yang terdapat dalam Quran! dan berpegang teguhlah di jalanmu, karena perkataan manusia yang mereka alamatkan kepadamu tidak akan merugikanmu.
Akan tetapi, bila kamu tidak tergolong orang yang mengikuti KITABULLAH dan perbuatanmu bertentangan dengan perintah dan larangannya, maka kamu harus memikirkan keselamatan dirimu yang telah kamu lalaikan, bukan memikirkan perkataan orang lain”.
 

Sabtu, 25 Juli 2015

Islam Nusantara di Mata Quraish Shihab

JAKARTA, Arraahmahnews.com – Kita patut bangga memiliki ulama pakar tafsir Al-Qur’an terkemuka alumnus Al-Azhar Mesir. Ia tak lain adalah Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Selama bulan Ramadan kemarin, setiap hari menjelang imsak dan berbuka puasa ia tampil di saluran televisi swasta untuk menerangkan isi kandungan Al-Qur’an. Buku biografinya berjudul Cahaya, Cinta dan Canda M Quraish Shihab baru di-launching di Jakarta pada Rabu 8 Juli 2015.
Quraish-Shihab-2
Prof Quraish Shihab
Selain itu, Pak Quraish juga kerap mengisi ceramah agama di berbagai masjid. Penulis pernah mengikuti ceramahnya beberapa hari yang lalu. Awalnya, penulis mengira bahwa penyusun Tafsir Al-Mishbah itu akan menerangkan tafsir Al-Qur’an sebagaimana di layar kaca, ternyata tidak. Dengan sangat memukau, mantan menteri agama RI itu mengemukakan pandangannya terkait tema yang sedang hit belakangan ini, yaitu “Islam Nusantara”.
Menurut Pak Quraish, istilah “Islam Nusantara” bisa saja diperselisihkan. Terlepas setuju atau tidaknya dengan istilah tersebut, ia lebih terfokus pada substansi. Islam sebagai substansi ajaran. Islam pertama turun di Makkah lalu tersebar ke Madinah dan ke daerah-daerah lain, Negara Yaman, Mesir, Irak, India, Pakistan, Indonesia dan seluruh dunia. Islam yang menyebar itu bertemu dengan budaya setempat. Pada mulanya, Islam di Makkah bertemu dengan budaya Makkah dan sekitarnya. Akulturasi antara budaya dan agama ini—sebagaimana di tempat lain kemudian—oleh Islam dibagi menjadi tiga.
Pertama, adakalanya Islam menolak budaya setempat. Pak Quraish mencontohkan budaya perkawinan di Makkah. Kala itu ada banyak cara seseorang menikah. Salah satunya, terlebih dahulu perempuan berhubungan seks dengan 10 laki-laki lalu kalau hamil, si perempuan bebas memilih satu dari mereka sebagai suaminya. Ada kalanya juga dengan cara perzinaan yang diterima masyarakat kala itu. Dan, ada lagi pernikahan melalui lamaran, pembayaran mahar, persetujuan dua keluarga. Nah, yang terakhir inilah yang disetujui Islam, sedangkan budaya perkawinan lainnya ditolak. Ini pula yang dipraktikkan Rasulullah SAW ketika menikahi Khadijah RA.
Kedua, Islam merevisi budaya yang telah ada. Lebih lanjut, Pak Quraish memberi contoh, sejak dahulu sebelum Islam orang Makkah sudah melakukan thawaf (ritual mengelilingi Kakbah). Namun, kaum perempuan ketika thawaf tanpa busana. Alasan mereka karena harus suci, kalau mengenakan pakaian bisa jadi tidak suci, maka mereka menghadap Tuhannya dengan apa adanya alias “telanjang”. Kemudian Islam datang tetap mentradisikan thawaf akan tetapi merevisinya dengan harus berpakaian suci dan bersih, serta ada pakaian ihram bagi yang menjalankan haji dan umrah.
Ketiga, Islam hadir menyetujui budaya yang telah ada tanpa menolak dan tanpa merevisinya. Seperti budaya pakaian orang-orang Arab, yang lelaki mengenakan jubah dan perempuan berjilbab. Oleh Islam budaya ini diterima.
Alhasil, kesimpulannya ialah jika ada budaya yang bertentangan dengan Islam maka ditolak atau direvisi, dan jika sejalan maka diterima. Inilah prinsip Islam dalam beradaptasi dengan budaya. “Jadi Islam itu bisa bermacam-macam akibat keragaman budaya setempat. Bahkan adat, kebiasaan dan budaya bisa menjadi salah satu sumber penetapan hukum Islam,” tutur Pak Qurasih.
Melihat pemaparan Pak Quraish ini kita bisa menilai, jika memang ada budaya di bumi Nusantara yang bertentangan dengan Islam maka dengan tegas kita harus menolaknya seperti memuja pohon dan benda keramat, atau meluruskannya seperti tradisi sedekah bumi yang semula bertujuan menyajikan sesajen untuk para danyang diubah menjadi ritual tasyakuran dan sedekah fakir miskin. Dan, jika ada budaya yang sesuai dengan syariat Islam maka kita terima dengan lapang dada, seperti ziarah kubur dalam rangka mendoakan si mayit, meneladaninya serta dzikrul maut (mengingat mati). Inilah wajah Islam Nusantara.
Jilbab dan Langgam Jawa
Ada hal yang menarik dalam ceramah Pak Quraish itu. Beberapa jamaah mengkritisi pemikiran Pak Quraish terkait jilbab dan membaca Al-Qur’an dengan langgam Jawa, seperti yang terjadi di Istana Negara tak lama ini.
Menanggapi hal itu, Pak Quraish balik bertanya, “Anda pernah lihat foto istri Ahmad Dahlan, istri Hasyim Asy’ari, istri Buya Hamka, atau organisasi Aisyiyah? Mereka pakai kebaya dengan baju kurung, tidak memakai kerudung yang menutup semua rambut, atau pakai tapi sebagian. Begitulah istri-istri para kiai besar kita. Apa kira-kira mereka tidak tahu hukumnya wanita berjilbab? Pasti tahu. Tapi mengapa mereka tidak menyuruh istri-istrinya pakai jilbab?”
Kritikan mengenai jilbab bagi ayah Najwa Shihab itu bukan hal yang baru. Pada tahun 2009, dalam sebuah talkshow bertajuk Lebaran bersama Keluarga Shihab di sebuah saluran televisi, Pak Quraish mengemukakan pendapatnya yang dinilai cukup kontroversial. Ia juga menulis buku tentang pendapatnya itu dengan judul Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu & Cendikiawan Kontemporer.
Sebagaimana diketahui, soal pakaian wanita muslimah, para ulama berbeda pendapat setidaknya ada tiga pandangan. Pertama, seluruh anggota badan adalah aurat yang mesti ditutupi. Kedua, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Ketiga, cukup dengan pakaian terhormat. Dalam hal ini, Pak Quraish lebih condong pada pendapat yang terakhir.
Seorang pakar tafsir Al-Qur’an di Jawa Timur, KH A Musta’in Syafi’i pernah menulis artikel menarik tentang hal ini. Ia menuturkan, memang jilbab itu berasal dari budaya, tapi sudah ditetapkan menjadi syari’at. Ia lebih melihat sisi aksiologis, di balik pesan nash yang tidak sekedar bertafsir seputar teks, melainkan memperhatikan pula efek hikmah dan tujuan pensyari’atan jilbab atau tutup aurat itu. “Apakah pendapat Pak Quraish itu jawaban nurani keagamaanya atau sekedar membela diri?” ungkapnya.
Pak Quraish tak pernah merasa bosan menanggapi pertanyaan seputar jilbab, bahkan sesudah melampaui tiga dekade, ketika ia dicap sebagai cendekiawan yang membolehkan wanita muslimah tak berjilbab. Jika ada waktu luang, ia dengan senang hati memenuhi undangan diskusi atau seminar seputar jilbab. “Dan, pendapat saya seputar itu tak berubah, atau belum berubah,” tegasnya dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda M Quraish Shihab (hal.255).
Mengenai membaca Al-Qur’an dengan langgam Jawa, Pak Quraish berpandangan boleh. Menurutnya, membaca Al-Qur’an boleh pakai lagu mana saja asal huruf dan tajwidnya benar.  “Anda boleh pakai langgam Jawa, Sunda, sedangkan saya pakai langgam Bugis misalnya, silakan saja karena itu yang Anda anggap enak dan sedap didengar orang,” paparnya. ( Baca Penjelasan Qurais Shihab tentang Langgam Jawa dalam Membaca al-Qur’an)
Rahmat Bukan Laknat
Sebagian hasil ceramah Pak Quraish di atas penulis share di media sosial Facebook. Banyak tanggapan pro dan kontra terkait hal itu. Seorang teman yang kini sedang study di Al-Azhar berkomentar, “Quraish Shihab habis dibantai ketika di Mesir. Tak usah dibanggakan, ngatur anak sendiri aja nggak becus. Kecerdasan seseorang diukur bukan dari cara dia lolos dari perdebatan. Dia pandai di depan orang awam belum tentu lolos debat dengan sesama ulama apalagi di depan Allah. Beragamalah yang benar sesuai tuntunan Rosul. Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari keduanya bukanlah Rosul”. ( Baca ISLAM NUSANTARA RAHMATAN LIL ALAMIN BUKAN LAKNATAN LIL ALAMIN )
Maka dengan berusaha santun meredam emosi penulis menanggapi; (1) Saya dan kami semua tetap membanggakan Pak Quraish, ahli tafsir negeri ini. Masalah dibantai karena pendapat itu wajar. Ia sudah berijtihad, bukankah orang yang berijtihad kala benar dapat dua pahala dan kala salah dapat satu pahala. Beliau banyak jasanya, bayangkan ayat-ayat Al-Qur’an seluruhnya diterjemah-ditafsiri. Mengapa hanya karena segelintir pendapatnya yang berbeda dengan kita lantas dimusuhi, dibenci? Kalau pun Anda membenci ya bencilah pendapatnya yang itu saja, bukan semua pendapatnya, apalagi orangnya. Tuhan melarang kita saling benci. (2) Nggak becus membina anak? Ingat Pak Quraish manusia biasa. Jangankan dia, anak Nabi Nuh AS saja tidak beriman, itu sederajat nabi. Justru kalau Pak Quraish selalu benar itu tidak wajar, bisa jadi beliau malaikat bukan manusia? intermezoo (3) Kita tidak mungkin bisa kenal Rasul SAW tanpa bantuan ulama-ulama kita. Toh, Nabi bersabda ulama adalah pewarisnya. Contoh mudahnya, kita tidak mungkin bisa berhaji-umrah tanpa bimbingan ketua rombongan, kalau berangkat sendiri bisa-bisa nyasar dan salah ritual.
Salah seorang famili Pak Quraish, Amna Alatas, menuturkan kepada penulis “Ami (demikian dia menyebut Pak Quraish) memang sepertinya sudah kebal dengan komentar-komentar miring tentang dirinya. Taushiyah Ami bukan untuk semua kalangan, banyak orang yang belum bisa terima karena tidak tahu persis esensinya. Kalau diambil sepotong-potong tanpa penjelasan selanjutnya memang artinya bisa jadi kontroversi”.
Di negeri kita tampaknya memang sering terjadi perbedaan pendapat dalam keislaman, mulai hal kecil sampai besar, termasuk istilah “Islam Nusantara” yang digaungkan oleh Nahdlatul Ulama dan istilah “Islam Berkemajuan” oleh Muhammadiyah. Belum lagi, ormas-ormas lain di luar keduanya.
Maka, sebagaimana Pak Quraish, kita sepakat tidak perlu berkutat pada istilah, namun lebih pada substansi. Dengan demikian, umat Islam di negeri ini akan lebih saling menerima, dan menjadikan perbedaan sebagai rahmat bukan laknat. Wallahu A’lam. (ARN/Nu.or.id)

Rabu, 22 Juli 2015

"Surga Itu Nggak Penting..!"

[Think Different Ala Cak Nun]

Emha Ainun Nadjib atau biasa disebut Cak Nun adalah seorang ulama atau kyai yang punya pemikiran-pemikiran nggak umum, kadang kontroversial, berbeda dari kebanyakan ustadz. Tapi tentu saja pemikirannya sangat masuk akal, brilian, otentik dan bisa dipertanggungjawabkan. Ulasan di bawah ini adalah beberapa dari banyak sekali pemikiran beliau yang di anggap sangat dahsyat untuk bahan renungan dan pembelajaran.

Beberapa tahun belakangan marak 'sedekah ajaib' yang sering digiatkan oleh seorang ustad 'nganu'. Cak Nun mengingatkan, "Sedekah itu dalam rangka bersyukur, berbagi rejeki bukan dalam rangka mencari rejeki. Kalau anda mengharapkan kembalian berlipat-lipat dari sedekah, itu bukan sedekah.. tapi dagang!"

Beliau tidak mengecam juga, lha wong taraf imannya masih segitu kok.
Kalau menyedekahkan uang, sepeda motor, mobil, rumah, helikopter atau apa pun.. kasih saja.. titik! Setelah itu jangan berharap apa-apa. Walau kita yakin akan dibalas dengan berlipat ganda tapi ketidaktepatan dalam niat menjadikan sedekah bukan lagi sedekah, melainkan sekedar jual beli. Sedekahnya sudah bagus tapi janji Tuhan jangan dijanjikan oleh manusia..!
Banyak orang beribadah yang masih salah niat. Naik haji biar dagangannya lebih laris. Shalat Duha biar diterima jadi PNS. Ibadah itu dalam rangka bersyukur.. titik!.

Menangislah pada Tuhan tapi bukan berarti jadi cengeng. Nabi dalam shalatnya menangis tapi sebenarnya itu adalah menangisi. Beda antara menangis dan menangisi. Kalau menangis itu kecenderungan untuk dirinya tapi kalau menangisi itu untuk selain dirinya: orang tua, anak, istri, saudara, sahabat dan seterusnya.

Ada seorang pedagang miskin yang dagangannya nggak laku, dia sabar dan ikhlas: "kalau memang saya pantasnya miskin, dagangan saya nggak laku.. saya ikhlas.. manut... yang penting Tuhan ridha sama saya." Malah keikhlasan seperti ini yang langsung dijawab oleh Tuhan dengan rejeki berlimpah yang tak disangka-sangka datangnya.

Tapi kalau kita yang ditimpa sial, dagangan nggak laku, biasanya langsung mewek: "Ya Tuhan kenapa saya kok miskin, dagangan nggak laku, gak iso tuku montor.... aku salah opo se..!???" Waaahh... malaikat langsung gregetan, njundul raimu: "Ohhh..cengeng koen iku!!!"
Iman seseorang memang tidak bisa distandarisasi. Tiap orang mempunyai kapasitas iman yang berbeda. Makanya kalau jadi imam harus paham makmumnya. Makmumnya koboi tapi bacaan imamnya panjang-panjang disamakan dengan anak pesantren. Akhire makmumnya nggerundel, gak ikhlas , “matane…!”

Cak Nun mengingatkan, usahakan berbuat baik jangan sampai orang tahu. Kalau bisa jangan sampai orang tahu kalau kita shalat. Lebih ekstrim lagi, jangan sampai Tuhan tahu kalau kita shalat (walau itu nggak mungkin). Pokoknya lakukan saja apa yang diperintahkan dan jauhi yang dilarang-Nya.. titik!. Itu adalah sebuah bentuk keikhlasan, tanpa pamrih yang luar biasa. Sudah suwung, sudah nggak perduli dengan iming-iming imbalan pahala, yang penting Tuhan ridha, nggak marah sama kita.
Motong rambut atau kuku nggak harus nunggu hari Jum'at. Mau kenthu aja kok ya harus nunggu malam Jum'at. Itulah kita, tarafnya masih kemaruk pahala. Nggak ada pahala, nggak ibadah. Ini jangan diartikan meremehkan Sunnah Rasul. Pikiren dewe..

"Surga itu nggak penting..!" kata Cak Nun suatu kali. Tuhan memberi balasan yang bernama surga dan neraka. Tapi kebanyakan manusia kepincut pada surga. Akhirnya mereka beribadah tidak fokus kepada Tuhan. Kebanyakan kita beribadah karena ingin surga dan takut pada neraka. Kelak kalau kita berada di surga, bakalan dicueki oleh Tuhan. Karena cuma mencari surga nggak mencari Tuhan. Kalau kita mencari surga belum tentu mendapatkan Tuhan. Tapi kalau kita mencari Tuhan otomatis mendapatkan surga. Kalau nggak dikasih surga, terus kita kost dimana???
"Cukup sudah, jangan nambah file di kepalamu tentang surga dan neraka.. fokuskan dirimu pada Tuhan.
Lillahi taala..

Minggu, 12 Juli 2015

Iran, Syiah dan Fitnah-fitnah Murahan Itu


By Ismail Amin
Sejak 2007 saya berada di Iran. Dipertengahan tahun itu saya pertama kali menginjakkan kaki di kota Qom. Bukan tanpa informasi. Saya justru mendapat bekal, Iran itu negeri Syiah. Syiah itu sesat bahkan bukan bagian dari Islam. Mereka punya Al-Qur'an yang berbeda dengan yang dibaca kaum muslimin dinegeri muslim lain di dunia. Sehari sebelum berangkat, Ust. Said Abdushshamad tokoh yang getol mengkampanyekan gerakan anti Syiah di Makassar menemuiku. Sangat kebetulan, saudara kandung beliau, bertetanggaan dengan rumah ibuku di Makassar. Mungkin beliau tahu informasi rencana kepergianku ke Iran dari Puang Tia, saudara perempuannya itu. Diapun menjejaliku dengan nasehat untuk waspada terhadap ajaran Syiah. Saya cukup mengiyakan saja. Setiba di Iran, yang disampaikan hampir semuanya berkebalikan. Saya melihat Iran negara yang Islami, justru sangat Islami. Tidak ada satupun perempuan yang bebas keluar rumah tanpa mengenakan jilbab, dan hampir semuanya berwarna hitam.

Dimanapun aku mampir shalat berjama'ah, masjid-masjid nyaris penuh. Kompleks Haram dijantung kota Qom, tempat dimakamkannya Sayyidah Fatimah Maksumah sa adik kandung Imam Ridha as terbuka 24 jam. Dan peziarah selalu berdatangan tanpa henti. Aktivitas Islami tidak pernah tidak terlihat dikompleks itu. Ada yang mengaji, shalat, membentuk kelompok-kelompok kecil untuk membahas masalah agama, atau sekedar bercengkrama dengan keluarga. Anak-anak kecil bebas lari berkeliaran. Setelah berkeluarga, sayapun selalu membawa istri dan kedua anakku ditempat itu selepas maghrib dan pulang kerumah menjelang subuh. Yang menarik, dan menurut saya, ini nilai lebihnya Haram itu, tersedia posko-posko tanya jawab dan diskusi agama. Sebut saja seperti ruang pengaduan di gereja. Bukan untuk membeli surat pengampunan dosa. Sama sekali bukan. Melainkan untuk bertanya masalah agama: aqidah, akhlak dan fiqh serta konsultasi keluarga. Semua ada posko khususnya. Termasuk posko khusus mengecek benar tidaknya bacaan dalam shalat. Yang melayani adalah pakar-pakar Islam dibidangnya. Saya sering mampir bertanya masalah aqidah. Mereka menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan.

Disepanjang jalan, terpampang papan-papan reklame yang bertuliskan pesan-pesan Islami dan baliho-baliho besar gambar Ayatullah plus informasi jadwal pengajiannya (bukan baliho kampanye politik). Di baliho itu tertulis, hari ini kelas tafsir, besoknya kelas akhlak, lusanya kelas fiqh di sini dan disitu. Tidak hanya itu ceramah para Ayatullah itu disiarkan di tivi-tivi secara langsung bahkan lewat radio. Esoknya sudah tersedia cd-cd rekamannya di kios-kios CD, dan selalu laku keras. Warga Iran memang pendengar yang baik. Mereka betah mendengar ceramah ataupun pidato-pidato politik berjam-jam. Momentum shalat Jum'at dimanfaatkan pemerintah Iran untuk menyampaikan pesan-pesan politik. 2-3 jam sebelum khutbah Jum'at, jama'ah Jum'at dijejali orasi politik satu dua tokoh aktivis, kebanyakannya menceritakan kondisi dunia Islam, dan selalu terdengar slogan perlawanan terhadap AS dan Israel. Di mimbar Jum'at bahkan ditulis, AS letaknya dibawah kaki kami. Kalau pidatonya membakar, jama'ah serentak berdiri, mengepalkan tangan sembari meneriakkan yel-yel dukungan terhadap pemimpin mereka dan kecaman terhadap AS. Persis situasi demonstrasi di jalan-jalan. Dengan kondisi seperti itu, sangat ganjil kalau sampai ada yang mengantuk. Bagi yang sibuk dan tidak sempat membaca Koran tiap hari, cukup mendengarkan pidato-pidato tersebut, ia akan paham apa yang terjadi selama sepekan itu. Karena itu, rakyat Iran tidak mudah terpengaruh propaganda murahan dari media-media asing. Mereka mandiri disegala hal, ekonomi, keamanan, budaya, sosial dan politik.

Masjid-masjid di Qom, tidak terlalu besar, tapi lapang dan nyaman bagi jama'ah. Terdapat beberapa kursi, buat mereka yang kesulitan shalat dengan duduk melantai. Terdapat bantal sandaran, buat para orangtua lanjut usia untuk menyandarkan tubuhnya saat mendengarkan ceramah atau sekedar mengaji. Dan dihari-hari tertentu, sambil dengar ceramah kita bisa menikmati segelas susu dan 1-2 biji kurma yang disediakan gratis pengurus masjid. Setelah shalat, remaja masjid akan membagikan Al-Qur'an, hampir disemua masjid ada program membaca al-Qur'an satu-dua halaman berjama'ah. Dipimpin qari-qari yang bacaannya sangat merdu. Di Tv ada saluran khusus menyiarkan program-program Qur'ani. Semua acara serba Qur'ani. Kelas tafsir, kelas ulumul Qur'an. Bincang-bincang Al-Qur'an menjawab problem keseharian, termasuk menyiarkan profil-profil para penghafal Al-Qur'an. Iran kaya dengan hafiz Al-Qur'an. Mulai dari usia sekolah dasar, remaja sampai usia dewasa. Saya pernah mewancarai beberapa remaja Iran yang hafal Al-Qur'an. Mulai dari Ali Amini yang telah menghafal Qur'an di usia 8 tahun sampai Mujtaba Karsenasi yang menghafal 30 juz al-Qur'an diusia 15 tahun. Mereka adalah penerus dari Husan Tabatabai, Doktor Cilik Penghafal Qur'an, yang dikenal sebagai mukjizat abad 20 karena memiliki penguasaan dan pengetahuan Al-Qur'an yang mengagumkan, sampai mendapat gelar doctor honoris causa bidang studi Al-Qur'an. Wawancara saya itu dimuat dalam buku Bintang-bintang Penerus Doktor Cilik yang kususun bersama bu Dina Sulaeman dan suaminya, diterbitkan Pustaka Iiman pertengahan tahun 2011.

Toko-toko buku jumlahnya hampir berimbang dengan toko kelontong. Di tengah kota, hampir disetiap lorong ada toko buku. Bukan hanya buku-buku karya ulama Syiah namun juga kitab-kitab ulama Sunni. Diperpustakaan pun demikian. Meski berbeda, orang-orang syiah tidak fobia terhadap karya-karya ulama sunni. Hal yang berbeda dari mereka yang menyebut syiah itu sesat. Bisa jadi bahkan melihat langsung buku-buku syiah saja mereka tidak pernah.

Mahasiswa Indonesia di Iran, tidak semuanya Syiah. Ada juga yang Sunni. Mereka tersebar di Teheran, Ghorghon dan Esfahan. Untuk menepis fitnah, di Iran warga Sunni dibunuhi, disiksa dan mendapat perlakuan tidak adil dari pemerintah Iran yang Syiah, saya mewancarai teman asal Indonesia yang belajar di Universitas agama yang bermazhab Sunni. Namanya Syarif Hidayatullah dan wawancara itu dimuat di ABNA. Dari lisannya, ia menepis tudingan dan fitnah tidak bertanggungjawab itu.
Pemerintah Iran gemar menyelenggarakan event-event internasional. Konferensi Mahdawiyat, konferensi ulama Islam, konferensi pemuda Islam, konferensi perempuan Islam, MTQ Internasional dan Pameran kitab Internasional yang melibatkan banyak negara muslim. Karena itu, banyak tokoh-tokoh nasional kita yang mengunjungi Iran sebagai delegasi Indonesia dalam event-event tersebut. Selama di Iran, setidaknya saya sudah bertemu dengan DR. Amin Rais (tokoh Muhammadiyah), Prof. Quraish Shihab (mantan menteri agama dan mantan ketua MUI), Dr. Umar Shihab (ketua MUI Pusat) dan Muh. Maftuh Basyuni (menteri agama kabinet SBY-JK). Tokoh-tokoh nasional itu mengunjungi langsung kampus saya di Qom. Berbincang dan membuka ruang dialog dengan mahasiswa Indonesia di Qom. Tidak ada yang ganjil. Mereka tidak meminta kami waspada dengan Iran dan Syiahnya. Justru meminta semua mahasiswa Indonesia belajar serius dan bisa memanfaatkan ilmunya jika kembali ke tanah air. Dengan adanya event-event internasional yang melibatkan banyak negara muslim tersebut menyodorkan fakta yang tidak terbantahkan, Iran diakui keberadaannya sebagai negara Islam. Terlebih lagi Republik Islam Iran juga memang termasuk dalam anggota OKI, organisasi internasional yang beranggotakan khusus negara-negara yang bermayoritas penduduk muslim. Tidak ada satupun negara yang keberatan dengan penamaan Iran sebagai Republik Islam juga semakin menguatkan fakta itu.

Hubungan mahasiswa Indonesia di Qom dengan KBRI di Teheran pun sangat akrab. Berkali-kali pihak KBRI datang ke Qom mengadakan silaturahmi, buka puasa bersama, atau silaturahmi pasca lebaran. Mengundang untuk menonton timnas PSSI yang bertanding di Teheran. Ataupun pada saat 17 Agustus, upacara bendera dan makan bersama. Saya pernah meraih juara I lomba penulisan karya tulis ilmiah yang diadakan KBRI Teheran. Dan perlu teman-teman tahu, semua staff di KBRI Teheran tidak ada yang Syiah, semuanya Sunni. Kalaupun memang Sunni mendapat tindakan semena-mena dari pemerintah Iran, bahkan katanya di Teheran tidak ada masjid Sunni, staff KBRI yang akan lebih dulu menyampaikan hal itu. Atau minimal kedutaan besar Malaysia, Arab Saudi, Mesir, dst yang ada di Teheran. Mengapa yang getol menyebarkan propaganda negatif tentang Iran justru media-media yang tidak satupun staff atau wartawannya yang pernah ke Iran?. Guru-guru besar UIN Syarif Hdayatullah Jakarta bahkan sejumlah guru besar UIN Alauddin Makassar pernah ke Iran. Seorang Dosen Unismuh Makassar pernah ke Qom, mengadakan penelitian tesis doktoralnya. Saya yang menemani beliau berkunjung ke Teheran dan Masyhad. Mengajaknya shalat berjama'ah dibeberapa masjid-masjid. Ia shalat sambil bersedekap dengan tenang di tengah-tengah jama'ah Iran yang tidak bersedekap. Saya pernah menyambut tamu dirumah, ketua umum PB HMI, dan delegasi HMI yang ikut dalam konferensi perempuan internasional di Teheran. Kesemua tamu itu sunni. Dan sepulangnya mereka menulis pengalaman mereka selama di Iran dan dimuat dimedia. Tidak ada cerita sunni dibantai, cerita sahabat-sahabat Nabi dilaknat dimimbar-mimbar, tidak ada cerita mereka menemukan Al-Qur'an orang Iran yang berbeda, tidak ada cerita praktik nikah mut'ah yang kebablasan sampai katanya dimasjid-masjid di Iran disediakan ruangan khusus untuk melakukan praktik mut'ah. Yang ada semangat ukhuwah dan persahabatan yang menakjubkan dari orang-orang Iran yang mazhabnya beda.

Saya yang sampai saat ini masih berada di Iran masih sering mendapat kiriman konten-konten yang negatif tentang Iran dan Syiah, sembari menasehatkan saya tentang bahaya Syiah. Saya tegaskan, sekalipun pada akhirnya saya tidak memilih Syiah sebagai mazhabku dalam berIslam, saya tidak akan merusak diri dengan mengkafirkan sesama muslim. Yang mengkafirkan orang-orang Syiah yang juga bersyahadat, shalat, puasa, zakat dan naik haji. Saya tidak mungkin mau menghina akal sehat dan rasioku dengan lebih mempercayai mereka dari apa yang saya lihat dan rasakan langsung. Kalau Prof. Amin Rais, DR. Diin Syamsuddin, KH. Hasyim Mazudi, Habib Rizieq, Muh. Maftuh Basyuni , guru-guru besar UIN, akdemisi Universitas2 Islam Indonesia yang dengan hanya beberapa jam di Iran telah berkesimpulan untuk tidak sampai mengkafirkan Syiah bagaimana dengan saya yang hidup ditengah-tengah mereka bertahun-tahun, dan melihat langsung amalan-amalan mereka?.

Sayang, bahkan selama Ramadhan inipun mereka kelompok takfiri masih juga getol menyebar berita dusta tentang Iran dan rakyatnya. Kebanyakan yang melakukan itu adalah aktivis dakwah, aktivis ormas Islam, bahkan katanya akademisi di lembaga penelitian. Apa ketika saya kembali ke tanah air, dan kembali ditemui oleh KH. Said Abdushshamad (sekarang sudah Kyai Haji) dan menjelaskan kepada saya tentang Iran seakan lebih tahu dari saya sendiri yang menetap bertahun-tahun di Iran dan mengingatkan tentang kesesatan dan kekafiran Syiah seakan lebih tahu dari saya yang mendengar langsung ceramah-ceramah Syiah dari Ayatullah di Qom, apa saya akan mempercayainya karena beliau Kyai Haji, karena beliau ketua umum LPPI Indonesia Timur dan karena beliau jauh lebih tua dari saya?.
Sangat mengerikan menyerahkan urusan Islam kepada mereka.

Minggu, 05 Juli 2015

GAGAH BERSORBAN TAPI DANGKAL

Alhamdulillah saya terlahir dari orang tua muslim kaum nahdliyin yg menghindari jauh-jauh sifat takfiri (mudah menyatakan bid'ah/dosa/sesarlt kepada saudara sesama Muslim) & menghargai/menghormati umat beragama lain.
GAGAH BERSORBAN TAPI DANGKAL
Asalamualaikum wr..wb.
Ini kisah nyata beberapa tahun yang lalu dari kejadian saat sosok ulama moderat NUsantara Kyai khos NU Gus Mus di kebumen Jawa Tengah. Pada pertemuan para kiyai NU di Kebumen yang juga mengundang kiyai2 di luar NU.
Datang segerombolan orang yang berpakaian ala sorban pangeran diponegoro termasuk kiyainya.
Ketika pada acara tanya jawab buru2 kiyai yang berpakaian Diponegoro tsb mengambil mix dan bicara :
"Walaupun di luar topik pembahasan, mumpung di sini ada Gus Mus saya mo tanya, apa betul Gus Mus dekat dengan Gusdur?"
Gusmus : "Ya kata orang2 sih begitu."
Kiyai : "Kebetulan, tolong sampaikan kepada Gus Dur, kita ini yang dibawah cape2 mau menghabisi orang2 nasroni eeh dia malah datang ke natalan."
Gus Mus : "Nanti dulu, nanti dulu kenapa kalian mau menghabisi itu orang2 nasrani?"
Kiyai : "Loh!? sampean itu gimana!!? mereka itu kan kafir?"
Gusmus : "Jadi kalau kafir harus dihabisi?"
Kiyai : "Iyya dong! yang kafir harus dihabisi!?"
Gus Mus : "Wah !!! untung kanjeng Nabi Muhammad bukan sampean, kalau sampean kita ini masih kafir semua, dulu yang islam cuma kanjeng Nabi tok, kalau ada kafir habisi... ada kafir habisi... ya tinggal Nabi tok, dan untung Wali Songo tidak seperti sampean... kalau seperti sampean kita ini masih hindu budha semuaa..
‪#‎Islam‬ NUsantara

Kamis, 02 Juli 2015

SUMPAHKU: TAK SUDI AKU CIUM TANGANMU GUS DUR

SUMPAHKU: TAK SUDI AKU CIUM TANGANMU GUS DUR
Saat nyantri di sebuah pesantren, bahkan awal-awal kuliah ada 2 hal yang ekstrim dan kaku dalam cara pandang dan sikap keislamanku. Pertama, saya anti Pancasila. Kedua, sumpahku: saya tidak akan cium tangan Gus Dur. Mengapa?Wali ke-10 ini, dulu saat saya baru melek dunia intelektual, bagi saya merusak Islam, agen Yahudi dan pemikirannya aneh, nyeleneh dan bikin pusing. Gak mudeng!
Padahal, secara sosiologi dan budaya saya lahir dari keluarga NU.KH. Zayyadi, kakekku santri Mbah Kholil. Waliyullah dan guru bagi kiai-kiai se-Madura dan Jawa. Satu "kotakan", gubuk dan ruangan dengan KH. As'ad Syamsul Arifin Situbondo.
Bagaimana saya bisa cinta pemikiran keislaman Gus Dur?Bgimna sy batalkan sumpah,bahkan dengan lahap mencium tangannya?
Akhir 99, pasca lepas dari sektariat Golkar di MPR, saya ngajar di SMU Madania Bogor. Sekolah berasrama ini digagas oleh Cak Nur. Di sinilah saya mulai dekat, mengenal, membaca dan sesekali ngobrol bila beliau datang. Secara intens saya diasah oleh suhu Nafis, muridnya dan direktur boarding ini. Sejak itu saya menikmati garis metodologi dan ideologi keislaman, keindonesian dan kemodernan. Akrablah saya dengan istilah inklusivisme, al-hanifiyat al-samhah, toleransi, pluralisme, egaliter, Piagam Madinah dll. Pokoknya wacana Islam kontemporer.
Saat nempuh S-2, saya lebih dekat lagi dengan Cak Nur. Saya jadi staf di Yayasan Wakaf Paramadina. Bahkan diusulkan jadi sekpri beliau. Tak jadi karena hal lain.
Cak Nur dan Gus Dur itu berkeluarga dan berkarib sangat dekat. Itulah penyambung saya ke Gus Dur. Kapan saya awal kali nyium tangan Gus Dur?
Saat ultah Paramadina. Saat itu saya jadi penanggung jawab Klub Kajian Agama (KKA). Rangkaian acaranya,salah satunya bedah buku. Lokasinya di kampus Paramadina. Narsumnya Gus Dur dan Kang Jalal.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Para undangan: ada menteri, pejabat, dosen, para civitas kampus dan jamaah sudah resah. Gus Dur tidak muncul2. Sebagai penanggung jawab acara saya panas dingin. Ketua Yayasan suda gak sabar dan minta tanggung jawabku.
Saya telpon mas Sulaiman, ajudan Gus Dur. Beliau ada di PBNU. Tapi, "Gus Dur tidur mas. Saya tidak berani bangunin", katanya. Waduh, mumet, keringatan dan meriang diriku.
Saya membeku di teras lobby kampus . Sendirian. Lalu saya baca fatihah. "Gus, bangun. Kalau tidak, sungguh saya tidak akan pernah cium tangan jenengan", batinku bicara mengarah ke Gus Dur. Tiba2, Sulaiman telpon. "Gus Dur sudah bangun dan otw ke kampus", infonya.
Tak lebih 15 menit mobilnya sudah tiba di halaman kampus. Saya songsong kursi rodanya. Saya jemput tangannya dan saya cium beberapa kali. "Maafkan saya Gus", kataku. "Tak apa.Kamu kan gak kenal saya saat itu", jawabnya. Lho, ya, Allah, bagaimana ia tahu sumpah kurang ajarku saat masa lalu?!. Aku kangen jenengan Gus. Lahu alfatihah.

Tentang Cak Nun


Tentang Cak Nun Kita
Pada suatu pengajian Cak Nun di Demak, tiba-tiba ada seorang remaja naik ke atas panggung. Dengan sigap, panitia acara lantas mengusir remaja laki-laki gila tersebut, karena panitia dan masyarakat sekitar tahu bahwa remaja laki-laki tersebut memang terkenal gila betulan.
Di saat ribuan orang menganggapnya gila, hanya satu orang yang mau menyapa hatinya. Cak Nun memanggil remaja laki-laki gila tersebut untuk kembali ke atas panggung. Di saat ribuan orang menganggapnya seperti virus penyakit sehingga harus dijauhi, bahkan kalau perlu diludahi kalau nekat mendekat, Cak Nun langsung mendekap tubuh bocah kesepian tersebut.
Bocah tersebut pun sangat kaget, karena di dunia ini masih ada orang yang mau menyapa hatinya, bahkan memeluk tubuhnya. Tanpa ada rasa jijik sedikitpun. Tanpa ada rasa malu sedikitpun. Sosok berbaju putih tersebut justru memeluknya semakin mesra dan menatap ribuan jama’ah sambil tersenyum. Seolah Cak Nun ingin bilang pada masyarakat Demak, “Ini salah satu anakku.”
Remaja laki-laki itu memang bocah kesepian. Namanya Edy Setiawan. Sudah yatim-piatu, dianggap orang gila pula. Hidup sebatang kara di dunia ini. Tidak ada yang mau menjadi temannya. Mungkin kalau ia mendekati teman-teman sebayanya, ia akan dipukuli agar takut mendekat lagi. Mungkin kalau ia duduk-duduk di warung makan, ia akan langsung diberi krupuk dan diusir.
***
Seorang Muhammad Ai(nun) Nadjib memang manusia berlian. Hati beliau bening, mengkristal indah, dan bisa memancarkan cahaya kasih sayang. Meski luar biasa “mahal”, seorang Cak Nun tidak risih bercengkrama dengan rakyat jelata, bahkan mau memeluk orang gila.
Meski diakui kadar intelektualitasnya oleh profesor-profesor dari negara maju di Eropa Barat, Cak Nun mau mendidik orang-orang di perdesaan yang mungkin kebanyakan hanya tamatan wajib belajar 9 tahun. Bercengkrama semalam suntuk. Mendengarkan keluh kesah. Membesarkan hati. Selama 20 tahun keliling Indonesia tanpa henti. Sudah “jalan kaki” ke lebih dari 1.300 desa di 28 provinsi.
Cak Nun tidak mengenal gengsi seperti kebanyakan diri kita. Meski sering keliling dunia di empat benua, bertemu petinggi-petinggi negara dan pemuka agama taraf internasional, beliau mau berteman akrab dengan kuli-kuli gendong di pasar. Meski sahabat seorang raja (Sultan HB X), beliau tetap mau kumpul-kumpul cekakakan dengan para preman dan para tukang becak.
Meski sangat ditakuti Pak SBY yang konon mengaku seorang presiden, beliau mau menerima telepon dari seorang gelandangan. Beliau tidak risih, bahkan bergembira, mendengar “laporan” pemuda pengangguran 35 tahun yang berlagak intelijen tentang situasi demo di depan DPR.
Meski di-kiyai-kan oleh para kiyai, Cak Nun tetap mau mengadakan pengajian khusus untuk para pelacur di beberapa tempat. Tidak pernah memvonis masuk neraka, tapi untuk membesarkan hati. Para pembaca tulisan saya ini yang dari kalangan pesantren pasti akrab dengan dua adagium ini: Kalau tidak bisa mempebaiki, jangan menambah kerusakan. Menghindari mudharat lebih diutamakan daripada mengharapkan manfaat.
Kalau diri kita tidak bisa menolong para pelacur untuk keluar dari lembah hitam, diri kita jangan juga lantas memutus harapan para pelacur dari kasih sayang Allah. Ingin tampak lebih gagah dan lebih suci? Hanya orang yang tidak gagah dan tidak suci yang butuh pengakuan.
Jangankan membutuhkan pengakuan, bahkan beliau senang menutupi aneka kebesaran yang sudah melekat pada dirinya sendiri. Sekalipun keturunan Imam Zahid, tapi tidak mau dipanggil “gus”. Perlu para pembaca tahu, Imam Zahid itu sahabat Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari, sama-sama santri kinasihnya Syaihkona Kholil Bangkalan. Tak heran pula Gus Dur sangat menyayangi Cak Nun, demikian pula sebaliknya.
***
Ketika seorang presiden “menasionalisasi” Lumpur Lapindo, bahkan menyebutnya sebagai bencana alam, akhirnya Cak Nun yang pasang badan untuk 11.800 keluarga korban. Cak Nun sendiri yang menelpon Ibu Rosmiyah Bakrie, meminta agar anaknya mau menyantuni puluhan ribu warga Sidoarjo, meski pengadilan telah menyatakan perusahaan anaknya tidak bersalah.
Ketika bentrokan antara perusahaan budidaya udang dengan petambak udang di Tulangbawang sudah memuncak, hingga menewaskan tiga orang dan membuat cukup banyak orang luka-luka, Cak Nun tampil menengahi kedua pihak. Beliau pun meminta diadakannya perubahan paradigma pemerintahan kabupaten Tulangbawang dan pembenahan pada tingkat elit perusahaan. Alhasil, selang beberapa waktu, kedua pihak tersebut tidak hanya rukun, tapi juga semakin sejahtera. Perusahaan budidaya udang semakin laba, para petambak udang semakin sejahtera.
Tentu masih banyak cerita heroik lainnya. Lalu, demi pamrih apakah Cak Nun tampil dimana-mana? Popularitas? Uang?
Jika Anda menganggap perjuangan seorang Muhammad Ainun Nadjib untuk materi dunia, pasti Anda ditertawakan Pak Harto. Sedikit cerita, sejengkel-jengkelnya Pak Harto pada kritikan pedas Cak Nun terkait jalannya Orde Baru, Pak Harto tidak bisa memenjarakan beliau. Pak Harto sangat tahu bahwa beliau tulus orangnya.
Satu-satunya orang yang berani “kurang ajar” pada Pak Harto hanya Cak Nun—semisal lingguh jigang atau berambut gondrong saat di istana—dan Pak Harto tidak bisa marah. Ketika Cak Nun bilang kepada Pak Harto untuk segera mandeg pandhito, Pak Harto hanya diam tersenyum dan mengangguk. Sebab Pak Harto tahu Cak Nun kalau ngomong sesuatu bukan untuk dirinya sendiri. Diiming-imingi saham perusahaan, Cak Nun menolak. Ditawari jabatan menteri pada 1980-an, Cak Nun juga menolak.
Semua perjuangan ikhlas demi rakyat. Orang bisa berbohong dan berhasil membohongi banyak orang, tapi tidak akan bisa bertahun-tahun. Level penipu ulung sekalipun. Sebab manusia digariskan tidak akan tahan menjadi bukan dirinya sendiri lama-lama. Ini rumusnya.
Seorang Muhammad Ainun Nadjib mampu mengayomi rakyat 20 tahun lamanya, tanpa pernah meminta upah seperser pun. Dari 20 tahun lalu hingga detik ini beliau tidak pernah berubah. Selalu mengayomi rakyat.
Ketika dulu masih muda, setelah shalat di mushola, beliau mendapat suatu ilham. Tanpa pikir panjang, beliau segera menelpon saudara-saudaranya di Jombang. Minta dicarikan empat orang yang sangat miskin tapi akhlaknya baik malam itu juga. Sebab besok paginya beliau akan mengirim uang ke Jombang, untuk ongkos naik haji keempat orang tersebut.
Tetap saja begitu hingga sekarang. Beliau tetap sering mengirimkan uang ke banyak orang miskin. Entah untuk ongkos naik haji, entah untuk modal usaha bikin warung kelontong, entah untuk beasiswa, dan sebagainya.
Apakah persediaan uang tersebut ada dengan jalan meminta? Atau mengajukan proposal? Tidak pernah sekalipun.
Dulu Cak Nun pernah akan diberi cek dengan nominal Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) oleh seorang pengusaha, tapi cek tersebut langsung disobek beliau. Sekadar info, menyobek cek itu aslinya tidak apa-apa, karena uangnya tetap utuh di dalam brangkas bank. ”Kalau ketemu saya lagi, mending ditraktir makan saja,” kata beliau sambil tersenyum.
Ciri-ciri pejuang sejati adalah mampu menghidupi perut dan idealisme dirinya sendiri. Ciri-ciri pejuang sejati adalah mampu menolong orang lain dengan hasil kerja keras dirinya sendiri.
***
Indonesia ibaratnya adalah sebuah kapal yang panjangnya 12,5 kilometer. Kapal raksasa ini mempunyai 39 rusuk. Ada sekitar 15 rusuk yang sudah retak, dan sungguh kapal ini tinggal menunggu waktu untuk tenggelam, kalau tidak diperbaiki. Apalagi empat dari lima ruangan utama kapal ini sudah hancur.
Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi, yang jelas, suatu hari Indonesia akan mendatangi kesejatian, karena kepalsuan bersifat sementara dan kegelapan bersifat menghancurkan. Indonesia mau tidak mau akan mengikuti kesejatian, sebab hanya kesejatian yang memiliki perspektif masa depan cerah.
Tulisan ini sama sekali bukan untuk me-monumen-kan Muhammad Ainun Nadjib, karena haram hukumnya mabuk pada seseorang. Ketika saya menulis tentang Cak Nun, Gus Dur, Gus Mus, atau yang lainnya, harapan saya adalah untuk dijadikan uswatun hasanah.
Jika kita menjadikan “Cak Nun” sebagai kata kerja yang cair dan dinamis, bukannya sebagai kata benda yang padat dan statis, maka beliau akan bernasib sama dengan Bung Karno dan Gus Dur kelak. Tidak ada manusia yang hidup abadi, tapi dengan suatu mekanisme cinta, beliau akan bisa tetap selalu hidup...di hati kita.
Saya tidak berani berharap apa-apa pada Indonesia. Bangsa ini memang tidak butuh Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, maupun Muhammad Ainun Nadjib, karena ketiganya manusia yang agung.
Suatu hari, karena tidak kuat membayar ustadz yang muda, ganteng dan terkenal, akhirnya para TKW di Hong Kong meminta Cak Nun yang datang. Di luar dugaan, Cak Nun hanya mau dengan tiga syarat; (1) Tidak mau dibayar, (2) tidak perlu dijemput di bandara, dan (3) tidak mau tidur di hotel.
Akhirnya, Cak Nun terbang ke Hong Kong dengan kocek sendiri, menuju lokasi naik bus, dan istirahat malam di rumah inap biasa. Ketika ditanya para TKW Hong Kong kenapa sampai berbuat demikian, beliau menjawab, “Aku datang sebagai bapakmu.”
Muhammad Ainun Nadjib. Perpaduan antara kedahsyatan dengan kelembutan. Pengayom sebuah bangsa yang yatim.

Kamis, 04 Juni 2015

Ciri Khas Orang Yang Punya Kekuatan Mental

Inilah 13 Ciri Khas Orang Yang Punya Kekuatan Mental Hello-pet

Apakah kamu ingin menghadapi hidup dengan santai tanpa tertekan atau stres? Saat menyadari bahwa hidup itu keras dan sulit mungkin pernah berfikir apa alasanmu dilahirkan di dunia ini. Daripada terus meratapi nasib dan mengeluh, mengapa kamu tidak mencoba menguatkan diri dan mental untuk menghadapi kehidupan ini?

Orang-orang bermental kuat memiliki kebiasaan yang sehat. Mereka dapat mengatur emosi, pikiran dan perlakuan mereka sedemikian rupa sehingga mereka siap menuju kesuksesan. Inilah beberapa hal yang tidak dilakukan oleh orang-orang tersebut, siapa tahu bisa anda juga bisa menjadi lebih kuat mentalnya.

1. Tidak Menghabiskan Waktu Untuk Mengasihani Diri Sendiri.


Orang yang bermental kuat tidak hanya duduk berdiam diri saja dan mengasihani diri mereka atas situasi atau atas perlakuan orang lain padanya. Yang mereka lakukan adalah mereka bangkit dan bertanggung jawab, mengambil peranan dalam hidup dan mengerti bahwa hidup tidaklah selalu mudah.

2. Berpegang Teguh Pada Kekuatan Sendiri.


Mereka tidak membiarkan orang lain mengendalikan mereka, dan mereka tidak membiarkan kekuatan orang lain mengendalikan mereka. Kalimat seperti, “Perasaanku jadi ga enak gara-gara bos,” tidak akan muncul, karena merekalah yang memegang kendali atas emosi mereka, mereka tahu cara mengontrol emosi.


3. Berani Menghadapi Perubahan


Orang bermental kuat tidak menghindari perubahan, tetapi mereka menerimanya dan mau menjadi lebih fleksibel. Mereka mengerti bahwa perubahan tidak dapat dihindari dan percaya bahwa mereka dapat beradaptasi.

4. Tidak Menghabiskan Tenaga Untuk Hal Yang Tidak Bisa Mereka Kendalikan


Orang yang bermental kuat tidak akan mengeluh jika koper mereka hilang ataupun terjebak kemacetan. Justru mereka fokus pada hal-hal yang bisa mereka kendalikan. Mereka sadar bahwa, kadang-kadang yang sebenarnya harus dikendalikan adalah sikap mereka.

5. Tidak Mengkhawatirkan Tentang Membuat Orang Lain Senang


Mereka tahu bahwa menyenangkan orang lain tidak perlu selalu dilakukan. Mereka berani untuk berkata tidak dan mengeluarkan pendapatnya apabila perlu. Mereka berusaha untuk menjadi baik dan adil, tetapi juga dapat mengatasi orang yang kecewa terhadap mereka.

6. Berani Menghadapi Resiko Yang Telah Diperhitungkan


Mereka tidak ceroboh dan tidak mau menghadapi resiko-resiko yang konyol, tetapi berani menghadapi jika resiko tersebut telah diperhitungkan. Waktu dihabiskan untuk mempertimbangkan resiko dan keuntungan sebelum mengambil keputusan besar, dan mereka tahu sekali akan potensi buruk yang akan mereka hadapai sebelum mereka bertindak.

7. Tidak Terjebak di Masa Lalu


Mereka tidak terjebak di masa lalu dan tidak berharap kalau saja mereka bisa mengubahnya. Mereka menerima masa lalu dan belajar dari itu. Mereka menjalani kehidupan saat ini dan merencanakan masa depan.

8. Tidak Mengulangi Kesalahan Yang Sama


Mereka bertanggung jawab atas perilaku mereka dan belajar dari kesalahan masa lalu agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Mereka terus maju ke depan dan membuat keputusan-keputusan yang lebih baik.

9. Tidak Membenci Kesuksesan Orang Lain


Mereka dapat menghargai kesuksesan orang lain. Tidak ada kecemburuan ataupun rasa dicurangi pada saat orang lain melebihi mereka. Mereka tahu bahwa sukses tersebut datang dengan kerja keras dan mereka mau bekerja keras untuk kesuksesan mereka sendiri.

10. Tidak Menyerah Setelah Kegagalan Pertama


Mereka tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk menyerah. Tetapi mereka menganganggap itu sebagai kesempatan untuk berkembang dan memperbaiki diri. Mereka terus mau mencoba sampai berhasil.

11. Tidak Takut Menghadapi Kesendirian


Mereka bisa hidup sendiri dan tidak takut pada keheningan. Mereka menggunakan waktu sendirinya untuk menjadi produktif, dan menikmatinya tanpa harus selalu bergantung pada keberadaan orang lain dan hiburan-hiburan. Mereka bisa bahagia di waktu sendirinya.

12. Tidak Merasa Dunia Berhutang Kepada Mereka.


Mereka lahir dengan mental bahwa mereka tidak harus diurus atau dijaga orang lain, dan juga tidak merasa bahwa dunia seharusnya memberi kepada mereka. Mencari kesempatan-kesempatan adalah ciri mereka.

13. Tidak Mengharapkan Hasil Yang Instant

Dalam hal penyembuhan ataupun memulai bisnis baru, mereka tidak berharap hasil yang instant. Tetapi mereka menggunakan kemampuan dan waktu mereka dengan maksimal dan mengerti bahwa perubahan sebenarnya butuh waktu.

Sabtu, 02 Mei 2015

Ubah Cara Pandang Kita

    Hidup Indah kalau kita pandang indah, hidup susah kalau kita pandang susah. Begitupun sebuah masalah akan berbeda-beda ketika orang memandangnya berbeda-beda pula, ada yang menganggap sulit ada pula yang menganggap mudah.

    Itulah kira-kira yang melatarbelakangi perjalanan hidupku setelah lama bergelut dalam pekerjaan. Selepas lulus SMA awalnya hanya menjadi kuli bangunan, yang sebagian orang mungkin mengangap sebagai pekerjaan kasar dan rendahan. Sementara bagi sahabat-sahabatku yang lain masih menempuh pendidikan atau kuliah di Universitas.

    Selama kurang lebih 5 tahun di berjibaku dengan semen, pasir, bata, dan peluh. Namun ada pelajaran yang bisa diambil dari pekerjaan tersebut, antara lain menjadikan orang terdidik untuk bekerja keras, tidak gengsi, dan menghargai pekerjaan orang lain

    Bagi sahabat-sahabat yang masih bekerja sebagai kuli bangunan tetaplah semangat dalam bekerja, karena profesi sebagai kenek atau tukang bangunan adalah suatu pekerjaan mulia. Bagi saya pekerjaan terbaik adalah yang dilakukan dengan tenaga sendiri.

    Kendalikan keinginan untuk hidup dalam kekayaan atau rasa ingin dipandang hormat oleh masyarakat atau orang lain. Artinya kalau belum mampu janganlah memaksakan untuk memiliki sesuatu yang memberatkan diri sendiri. Kalau itu dilakukan tentu dapat mengganggu ekonomi keluarga, atau mental sendiri. Banyak kejadian yang kita bisa lihat dimasyarakat mengenai hal ini.

    Kehidupan adalah saat ini, jadi kalau mengharapkan suatu kondisi yang dianggap nyaman hanyalah akan menyakiti diri sendiri. Tetap berusaha mencari sumber penghasilan lain untuk memperkuat ekonomi keluarga.

    Karenanya kita harus yakin bahwa letak kekayaan adalah bagaimana kita mampu mensyukuri apa yang dimiliki sekarang sedangkan letak kehormatan adalah ketika kita mampu menghormati dan bermanfaat bagi orang lain, atau minimal keluarga terdekat kita

    Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".  Dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (ni'mat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS: Ibrahim:7-8)

    Pekerjaanku selanjutnya adalah menjadi kurir atau pengantar barang di sebuah CV, selama kurang lebih 4 tahun. Disini saya banyak bersyukur karena dapat menimba Ilmu di lingkungan pekerjaan saya yang baru tersebut.  Salah satu yang sangat berjasa adalah pimpinan saya sendiri. Karena beliau sangat terbuka dan ikut mendorong agar pola pikir-ku berubah dengan memberikan sarana pendukung.
Saya selalu berdoa untuk beliau dan keluarganya

     Selama periode itu, saya banyak bertemu dengan orang-orang dengan karakter yang berbeda-beda. Dari situ banyak ilmu yang saya peroleh.
Walaupun akhirnya harus keluar dari pekerjaan tersebut, tetapi dalam keyakinanku selalu tertanam bahwa " Rezeki adalah hak kita ", jadi tinggal bagaimana kita menggunakan sebab-sebab untuk mendapatkannya.

  Akhirnya ada jalan lain untuk memperoleh rezeki, yang mudah-mudahan lebih banyak bermanfaat bagi keluargaku dan saudara-saudaraku.

Ya Alloh, berikan kepadaku dari diriku apa yang membuat-Mu ridho kepadaku
Dan ambilan untuk-Mu kerelaan dari diriku dalam kesejahteraan
Ya Alloh, aku tidak memiliki kemampuan untuk berjuang
Aku tidak memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan
Aku tidak kuat menanggung kefakiran
Oleh karena itu, janganlah Engkau tahan rezekiku
Perhatikanlah diriku dan jagalah aku dalam segala urusan
...................
Ya Alloh limpahkan Shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarga nabi Muhammad

Minggu, 26 April 2015

Budidaya Gurame Mulai Ditinggalkan


PURBALINGGA, KOMPAS.Com - Peternakan ikan gurame mulai ditinggalkan para pembudidaya di Purbalingga, Jawa Tengah, karena harganya anjlok dan rentan terhadap penyakit. Mereka kini beralih membudidayakan ikan nila dan lele yang perputaran uangnya lebih cepat serta lebih ta han terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purbalingga, Siswanto, Senin (9/5), mengatakan, banyaknya persoalan yang dialami dalam budidaya gurame menyebabkan para peternak ikan berpikir ulang. "Harga gurame sedang tidak bagus, padahal masa pembesarannya lama sehingga ongkos produksinya relatif lebih tinggi. Belum lagi penyakitnya juga banyak sehingga banyak benih yang mati," ujarnya.

Harga ikan gurame di Purbalingga yang sebelumnya Rp 28.000 per kilogram (kg), sejak akhir tahun lalu sempat anjlok sampai menjadi Rp 23.000 per kg. Beberapa hari ini harga kembali naik hingga menjadi Rp 25.000 per kg.

Siswanto mengakui, kecenderungan para petani ikan beralih membudidayakan nila dan lele. Selain harganya yang bagus, permintaan pasar untuk dua komoditas itu lebih tinggi. Apalagi kedua jenis ikan ini relatif tahan penyakit dan mudah pemeliharaannya.

Namun pemasaran nila dan lele masih di sekitar lokal Purbalingga. Berbeda dengan gurame yang selama beberapa generasi berhasil menguasai pasar di Jawa Tengah, bahkan hingga ke Jakarta dan Bandung. Dibandingkan dengan produksi daerah lain, gurame hasil budidaya peternak Purbalingga punya kelebihan tak berbau lumpur atau tanah dan dagingnya lebih gurih.

Penurunan minat pembudidaya gurame dikhawatirkan menyebabkan penurunan poduksi gurame sebagai salah satu komoditas perikanan unggulan Purbalingga. Data Dinas Peternakan dan Perikanan Purbalingga menyebutkan, produksi gurame pada 2009 mencapai 2.130 ton, sedangkan pada 2014 ditargetkan 2.600,5 ton.

Lebih prospektif
Ketua Kelompok Tani Ternak Mina Dipakerti I, Kecamatan Bukateja, Purbalingga, Umar Thoyib, mengatakan, komoditas lele memang sudah lama diminati petani, terlebih lagi dengan menjamurnya warung makan pecel lele. Masyarakat juga lebih suka ikan lele, karena harganya lebih terjangkau dibandingkan dengan gurame.

Saat ini, harga ikan lele berkisar Rp 15.000-Rp 16.000 per kg, sedangkan ikan nila Rp 17.000-Rp 18.000 per kg. "Ikan nila di kalangan para pembudidaya memang sedang diminati, karrena perputaran produksinya lebih cepat. Ini yang menarik bagi petani," tambahnya.

Menurut Umar, prospek bisnis ikan lele dan nila memang relatif semakin bagus. Namun dua jenis ikan tersebut sangat bergantung pada jenis pakan pelet. Pada gurame, pelet bisa diganti dengan daun keladi, sehingga dampak buruk akibat fluktuasi harga pakan masih dapat diantisipasi.

Mujahid (54), salah satu pembudidaya ikan nila, mengakui, sebelumnya ia sempat beternak gurame. Namun sejak akhir tahun lalu, ia beralih beternak nila karena dari potensi panen gurame sebanyak 20 ton pada bulan Desember lalu, sekitar 70 persennya mati terserang parasit. Ikan gurame lebih banyak terjangkit parasit jika iklim di sekitarnya dingin.  

"Mulanya, pada bagian tertentu kulit berwarna merah, terutama pada bagian dada, perut dan pangkal sirip. Warna ikan juga jadi pucat dan tubuhnya berlendir dan akhirnya mati . Kalau lele dan nila lebih tahan iklim," kata Mujahid.

Sumber : http://regional.kompas.com/

Sabtu, 25 April 2015

Kelompok Tani

Fungsi Kelompok Tani

Kelembagaan petani (kelompok tani)  mempunyai fungsi: sebagai wadah proses pembelajaran, wahana kerja sama, unit penyedia sarana dan prasarana produksi, unit produksi, unit pengolahan dan pemasaran, serta unit jasa penunjang.
1.       Kelas Belajar, wadah belajar mengajar bagi anggotanya guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap (PKS) serta tumbuh dan berkembangnya kemandirian dalam berusaha tani sehingga produktivitasnya meningkat,  pendapatannya bertambah serta kehidupan yang lebih sejahtera.
2.       Wahana Kerjasama, untuk memperkuat kerjasama diantara sesama petani dalam kelompoktani dan antar kelompoktani serta dengan pihak lain. sehingga usaha taninya akan lebih efisien serta lebih mampu menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan,
3.       Unit Produksi, Usahatani yang dilaksanakan secara keseluruhan harus dipandang  sebagai  satu kesatuan usaha yang dapat dikembangkan untuk mencapai skala ekonomi, baik dari segi kuantitas, kualitas maupun kontinuitas.
 Kelembagaan dapat berbentuk kelompok, gabungan kelompok, asosiasi, atau korporasi.  .Kelembagaan difasilitasi dan diberdayakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah agar tumbuh dan berkembang menjadi organisasi yang kuat dan mandiri sehingga mampu mencapai tujuan yang diharapkan para anggotanya.
Peraturan Menteri Pertanian, Nomor :   273/Kpts/ OT.160/4/2007, tanggal 13 April 2007, tentang Pembinaan Kelembagaan Petani. Kelompoktani adalah kumpulan petani/ peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.
Menurut Mardikanto (1993) pengertian kelompoktani adalah sekumpulan orang-orang tani atau petani yang terdiri dari petani dewasa (pria/wanita) maupum petani-taruna yang terikat secara informal dalam suatu wilayah kelompok atas dasar keserasian dan kebutuhan bersama serta berada di lingkungan pengaruh dan dipimpin oleh seorang kontaktani, sedangkan menurut Departemen Pertanian (2007), kelompoktani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan anggota/petani dalam mengembangkan usahanya 
     Kelembagaan Petani dan Pelaku Usaha Pertanian Lainnya merupakan :
1)      Kelembagaan petani dan pelaku usaha pertanian lainnya adalah organisasi
yang anggotanya petani dan pelaku usaha pertanian lainnya dan dibentuk oleh mereka,   baik formal maupun non formal.
2)      Kelembagaan petani yang formal berupa koperasi petani dan atau bentuk organisasi badan hukum lainnya.
3)      Kelembagaan petani yang non formal dapat berbentuk kelompoktani, gabungan kelompoktani, dan asosiasi petani.
4)      Kelembagaan petani tumbuh dan berkembang menjadi organisasi yang kuat dan mandiri sehingga mampu mencapai tujuan yang diharapkan para anggotanya. 
          Gabungan kelompoktani terdiri dari kelompoktani-kelompoktani yang ada dalam satu wilayah administrasi desa atau berada dalam satu wilayah aliran irigasi petak pengairan tersier (Departemen Pertanian, 1980). Sedangkan Departemen Pertanian (2007) mengemukakan bahwa Gabungan Kelompoktani (Gapoktan) adalah kumpulan beberapa kelompoktani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha.

C. Ciri Kempok Tani
Beberapa hal yang menjadi cirri kelompoktani adalah;
Saling mengenal, akrab dan  saling percaya diantara sesama anggota,
Mempunyai pandangan dan kepentingan yang sama dalam berusaha tani,
Memiliki kesamaan dalam tradisi dan atau pemukiman, hamparan usaha, jenis usaha, status ekonomi  maupun sosial, bahasa, pendidikan  dan ekologi.
Ada pembagian tugas dan tanggung jawab sesama  anggota berdasarkan kesepakatan bersama.

D. Unsur Pengikat Kelompoktani
Adanya kepentingan yang sama diantara para anggotanya,
Adanya kawasan usaha tani yang menjadi tanggung jawab bersama diantara para anggotanya,
Adanya kader tani yang berdedikasi untuk menggerakkan para petani dan kepemimpinannya diterima oleh sesama petani lainnya,
Adanya kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh sekurang kurangnya sebagian besar anggotanya,
Adanya dorongan atau motivasi dari tokoh masyarakat setempat untuk menunjang program yang telah ditentukan.

E. Gabungan Kelompoktani
Gabungan beberapa kelompoktani yang berada dalam satu wilayah administrasi pemerintahan untuk menggalang kepentingan bersama secara kooperatif (Peraturan Menteri Pertanian , nomor :   273/Kpts/ OT.160/4/2007, tanggal 13 April 2007, tentang Pembinaan Kelembagaan Petani)
Wilayah kerja GAPOKTAN sedapat mungkin di wilayah administratif desa/kecamatan, tetapi sebaiknya tidak melewati batas wilayah kabupaten/kota.
Fungsi Gapoktan
Unit Usaha Jasa produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar (kuantitas, kualitas, kontinuitas dan harga);
Unit Usaha Jasa Penyediaan saprotan (pupuk bersubsidi, benih bersertifikat, pestisida dan lainnya)  serta  menyalurkan kepada para  petani melalui kelompoknya;
Unit Usaha Jasa Penyediaan Modal Usaha   dan menyalurkan  secara  kredit/pinjaman kepada para petani yang memerlukan;
Unit Usaha Jasa Proses Pengolahan Produk para anggota (penggilingan, grading, pengepakan dan lainnya)  yang dapat meningkatkan nilai tambah,
Unit Usaha Jasa Menyelenggarakan Perdagangan, memasarkan/menjual produk petani kepada pedagang/industri hilir.
Proses Penumbuhan Gapoktan antara lain sebagaai berikut:
1.     Mengidentifikasi kelompok-kelompok tani yang mempunyai jenis usaha  hampir sama pada wilayah tertentu (sentra/kawasan pertanian).
2.      Setiap kelompok mengadakan koordinasi untuk bekerjasama antar kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya.
3.     Melaksanakan pertemuan/musyawarah antar pengurus kelompok (yang mewakili kelompok) untuk membuat kesepakatan-kesepakatan usaha dengan skala yang lebih besar dalam upaya memperkuat posisi tawar (bergaining position).
4.     Membuat aturan-aturan  yang pengikat (sebaiknya secara tertulis) terhadap kesepakatan dari musyawarah antar kelompok tersebut serta sanksi-sanksinya apabila terjadi pelanggaran kesepakataan.
5.     Menentukan pengurus dari Gapoktan tersebut untuk melaksanakan kegiatan usaha bersama sesuai dengan kebutuhan Gapoktan tersebut. Penentuan pengurus Gapoktan harus dapat mewakili kepentingan  dari semua kelompok yang bergabung.
6.     Membuat Berita Acara yang diketahui oleh Instansi Pemerintah terkait.
7.     Adanya Rencana Usaha bersama (RUB)
Dengan bergabungnya kelompok tani tersebut dalam suatu wadah kelembagaan tani dalam bentuk Gapoktan, keberadaan petani akan lebih berdaya, yaitu sebagai berikut:
1.     Jumlah anggota produksi yang dihasilkan dapat terkumpul lebih banyak, karena setiap anggota/kelompok mengumpulkannya untuk kepentingan bersama.
2.     Kontinuitas hasil akan lebih mudah diatur, karena Gapoktan dapat memusyawarahkan rencana usaha kegiatannya bersama kelompok, sehingga jadwal tanam dan tata laksana kegiatannya dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan anggota dan kebutuhan pasar.
3.       Petani menjadi subyek, karena Gapoktan diharapkan dapat bernegosiasi dengan pihak mitra usaha sesuai dengan kebutuhan anggotanya.
4.     Petani mempunyai posisi yang lebih kuat dalam posisi tawar, karena dapat memilih alternatif yang menguntungkan serta dapat mangakses pasar yang lebih baik.
5.     Dapat menjalin kerjasama usaha yang saling menguntungkan dengan koperasi, baik sebagai anggota maupun sebagai mitra usaha.

F. Pengelompokkan atas Sistem Agribisnis
          Pengelompok petani dapat didasarkan pada aktivitas yang terkait dengan dunia pertanian menjadi lima kelompok kelembagaan.
          Pertama;  kelembagaan pengadaan sarana input produksi. Dalam kelompok ini misalnya termasuk kelembagaan kredit atau kelembagaan permodalan usahatani, kelembagaan pupuk yang mencakup mulai dari pengadaan sampai distribusinya, kelembagaan benih yang juga begitu  kompleksnya yang salah satu bagiannya kita kenal dengan struktur JABAL (Jaringan Benih Antar Lapang), serta kelembagaan penyediaan dan distribusi pestisida. Tiap kelembagaan memiliki aspek kelembagaan tersendiri dengan menerapkan aturan-aturan kerja yang datang dari norma-norma tertentu, penentuan hak dan kewajiban antar bagian; serta struktur organisasi yang menentukan bagaimana keterkaitan antar bagian tersebut.
Kedua; kelembagaan dalam aktivitas budidaya, mencakup kelembagaan tenaga kerja, kelembagaan irigasi mulai dari bentuk yang tradisional sampai kelembagaan bentukan pemerintah (Perkumpulan Petani Penmakai Air = P3A), kelembagaan lahan (land tenure) dalam hal tata hubungan antara pemilik dan petani penggarap, serta kelembagaan panen. Dalam kelembagaan panen dapat dilihat tata hubungan kerja antara dan kesepakatan antara pemilik tanah, petani bawon , petani yang melakukan kedokan , penderep , pembeli gabah atau pedagang pengumpul gabah, rombongan buruh panen yang diupah oleh pedagang yang membeli secara borongan, pemilik alat panen (tresher), dan lain-lain 8. Dengan mempelajari kelembagaan panen kita bisa belajar bagaimana menangkap makna suatu gejala (kemampuan konatif), dan tak hanya kognitif saja (mengenali suatu gejala). Melalui kemampuan imajinasi sosiologis, kita dapat memberi makna dari gejala di tingkat mikro menjadi makro9. Contohnya adalah penelitian Clifford Geertz tentang panen untuk menerangkan struktur sosial masyarakat Jawa pada era Tanam Paksa. Menurutnya, panen yang menggunakan sistem dengan upah tetap (bawon) merupakan gejala involusi pertanian ( welfare institution dan poversty sharing), dan perubahan menjadi sistem tebasan merupakan gejala melemahnya involusi tersebut.
Ketiga; Kelembagaan terkait dengan aktivitas pengolahan hasil produksi. Dalam tahapan ini misalnya termasuk pengorganisasian sebuah penggilingan padi ( huller) , pemrosesan pisang menjadi produk keripik pisang, dan pembuatan sirop markissa mulai dari aktivitas pembelian bahan baku sampai siap dipasarkan. Seluruh orang yang terlibat di dalamnya bisa diidentifikasi, mereka diikat oleh kepentingan yang sama, dan tunduk kepada kesepakatan- kesepatakan yang diakui secara bersama. Kelompok ini juga memiliki struktur karena ada perbedaan peran dan tingkat kekuasaan, serta jaring kekuasaan tersebut.
Keempat; kelembagaan pemasaran. Hal ini merupakan kelembagaan yang cukup kompleks. Dalam pengertian Purcell, analisis kelembagaan pada tataniaga  pertanian merupakan proses penyampaian suatu barang dari produsen ke konsumen, dimana efisiensi merupakan indikator kelembagaan yang penting. "The institution are important. They are the base of the behavioral decision process and are the center of change. .... it will be the interaction of the institution along the marketing continuum frim producer to consumer that determines the degree of coordination and total system efficiency achieved.... toward increased efficiency in marketing .... the focus of the attention is extended to include the interstage actionsand interactions"  Dalam pengertian ini sudah tercakup aspek kelembagaan (perilaku, proses pengambilan keputusan, dan interaksi) dan keorganisasiannya hubungan antar bagian (interstage action and interaction) .  Hubungan sosial dalam dunia perdagangan sangatlah berbeda, dimana hubungan bersifat tersekat-sekat (dispersal) . Umumnya seorang pedagang hanya mengenal pelaku setingkat di bawahnya dan setingkat pula di atasnya. Pedagang hasil pertanian misalnya, tidak mengenal seluruh pedagang dalam seluruh titik saluran mulai dari pedagang pengumpul di desa sampai dengan pedagang pengecer di wilayah tujuan. Seorang pedagang besar sayuran di pasar induk Jakarta misalnya tidak pernah bertemu dengan konsumen langsung, karena hanya pedagang sayur kelilinglah yang langsung bertemu muka dengan pembeli akhirnya.
Kelima; kelembagaan pendukung. Dalam kelompok ini termasuk kelembagaan koperasi yang sedemikian pentingnya bahkan diurus oleh satu departemen, demikian pula dengan kelembagaan penyuluhan pertanian (lihat Box 1), serta kelembagaan penelitian mulai dari penciptaan sampai dengan delivery sistem -nya yang membutuhkan suatu organisasi khusus. Apa yang terjadi pada kelembagaan penyuluhan adalah tidak terjadinya kesesuaian antara konsep-konsep ideal yang harus dijalankan dengan struktur yang dimilikinya. Atau, tidak ada kecocokan antara aspek kelembagannya dengan aspek keorganisasiannya. Untuk menampilkan sosok seorang "guru di pesantren",  "pendeta", ataupun "penasehat"; tak sesuai dengan strukturnya yang faktanya berada di bawah pemerintah, dimana ia harus bekerja dengan "memerintah". Ini karena posisinya yang merupakan subordinasi dari organisasi pemerintah. Permasalahan ini telah berdampak kepada tidak optimalnya pelaksanaan peran penyuluhan
Sumber : http://sahabatppl.blogspot.com