Rabu, 22 Juli 2015

"Surga Itu Nggak Penting..!"

[Think Different Ala Cak Nun]

Emha Ainun Nadjib atau biasa disebut Cak Nun adalah seorang ulama atau kyai yang punya pemikiran-pemikiran nggak umum, kadang kontroversial, berbeda dari kebanyakan ustadz. Tapi tentu saja pemikirannya sangat masuk akal, brilian, otentik dan bisa dipertanggungjawabkan. Ulasan di bawah ini adalah beberapa dari banyak sekali pemikiran beliau yang di anggap sangat dahsyat untuk bahan renungan dan pembelajaran.

Beberapa tahun belakangan marak 'sedekah ajaib' yang sering digiatkan oleh seorang ustad 'nganu'. Cak Nun mengingatkan, "Sedekah itu dalam rangka bersyukur, berbagi rejeki bukan dalam rangka mencari rejeki. Kalau anda mengharapkan kembalian berlipat-lipat dari sedekah, itu bukan sedekah.. tapi dagang!"

Beliau tidak mengecam juga, lha wong taraf imannya masih segitu kok.
Kalau menyedekahkan uang, sepeda motor, mobil, rumah, helikopter atau apa pun.. kasih saja.. titik! Setelah itu jangan berharap apa-apa. Walau kita yakin akan dibalas dengan berlipat ganda tapi ketidaktepatan dalam niat menjadikan sedekah bukan lagi sedekah, melainkan sekedar jual beli. Sedekahnya sudah bagus tapi janji Tuhan jangan dijanjikan oleh manusia..!
Banyak orang beribadah yang masih salah niat. Naik haji biar dagangannya lebih laris. Shalat Duha biar diterima jadi PNS. Ibadah itu dalam rangka bersyukur.. titik!.

Menangislah pada Tuhan tapi bukan berarti jadi cengeng. Nabi dalam shalatnya menangis tapi sebenarnya itu adalah menangisi. Beda antara menangis dan menangisi. Kalau menangis itu kecenderungan untuk dirinya tapi kalau menangisi itu untuk selain dirinya: orang tua, anak, istri, saudara, sahabat dan seterusnya.

Ada seorang pedagang miskin yang dagangannya nggak laku, dia sabar dan ikhlas: "kalau memang saya pantasnya miskin, dagangan saya nggak laku.. saya ikhlas.. manut... yang penting Tuhan ridha sama saya." Malah keikhlasan seperti ini yang langsung dijawab oleh Tuhan dengan rejeki berlimpah yang tak disangka-sangka datangnya.

Tapi kalau kita yang ditimpa sial, dagangan nggak laku, biasanya langsung mewek: "Ya Tuhan kenapa saya kok miskin, dagangan nggak laku, gak iso tuku montor.... aku salah opo se..!???" Waaahh... malaikat langsung gregetan, njundul raimu: "Ohhh..cengeng koen iku!!!"
Iman seseorang memang tidak bisa distandarisasi. Tiap orang mempunyai kapasitas iman yang berbeda. Makanya kalau jadi imam harus paham makmumnya. Makmumnya koboi tapi bacaan imamnya panjang-panjang disamakan dengan anak pesantren. Akhire makmumnya nggerundel, gak ikhlas , “matane…!”

Cak Nun mengingatkan, usahakan berbuat baik jangan sampai orang tahu. Kalau bisa jangan sampai orang tahu kalau kita shalat. Lebih ekstrim lagi, jangan sampai Tuhan tahu kalau kita shalat (walau itu nggak mungkin). Pokoknya lakukan saja apa yang diperintahkan dan jauhi yang dilarang-Nya.. titik!. Itu adalah sebuah bentuk keikhlasan, tanpa pamrih yang luar biasa. Sudah suwung, sudah nggak perduli dengan iming-iming imbalan pahala, yang penting Tuhan ridha, nggak marah sama kita.
Motong rambut atau kuku nggak harus nunggu hari Jum'at. Mau kenthu aja kok ya harus nunggu malam Jum'at. Itulah kita, tarafnya masih kemaruk pahala. Nggak ada pahala, nggak ibadah. Ini jangan diartikan meremehkan Sunnah Rasul. Pikiren dewe..

"Surga itu nggak penting..!" kata Cak Nun suatu kali. Tuhan memberi balasan yang bernama surga dan neraka. Tapi kebanyakan manusia kepincut pada surga. Akhirnya mereka beribadah tidak fokus kepada Tuhan. Kebanyakan kita beribadah karena ingin surga dan takut pada neraka. Kelak kalau kita berada di surga, bakalan dicueki oleh Tuhan. Karena cuma mencari surga nggak mencari Tuhan. Kalau kita mencari surga belum tentu mendapatkan Tuhan. Tapi kalau kita mencari Tuhan otomatis mendapatkan surga. Kalau nggak dikasih surga, terus kita kost dimana???
"Cukup sudah, jangan nambah file di kepalamu tentang surga dan neraka.. fokuskan dirimu pada Tuhan.
Lillahi taala..

Minggu, 12 Juli 2015

Iran, Syiah dan Fitnah-fitnah Murahan Itu


By Ismail Amin
Sejak 2007 saya berada di Iran. Dipertengahan tahun itu saya pertama kali menginjakkan kaki di kota Qom. Bukan tanpa informasi. Saya justru mendapat bekal, Iran itu negeri Syiah. Syiah itu sesat bahkan bukan bagian dari Islam. Mereka punya Al-Qur'an yang berbeda dengan yang dibaca kaum muslimin dinegeri muslim lain di dunia. Sehari sebelum berangkat, Ust. Said Abdushshamad tokoh yang getol mengkampanyekan gerakan anti Syiah di Makassar menemuiku. Sangat kebetulan, saudara kandung beliau, bertetanggaan dengan rumah ibuku di Makassar. Mungkin beliau tahu informasi rencana kepergianku ke Iran dari Puang Tia, saudara perempuannya itu. Diapun menjejaliku dengan nasehat untuk waspada terhadap ajaran Syiah. Saya cukup mengiyakan saja. Setiba di Iran, yang disampaikan hampir semuanya berkebalikan. Saya melihat Iran negara yang Islami, justru sangat Islami. Tidak ada satupun perempuan yang bebas keluar rumah tanpa mengenakan jilbab, dan hampir semuanya berwarna hitam.

Dimanapun aku mampir shalat berjama'ah, masjid-masjid nyaris penuh. Kompleks Haram dijantung kota Qom, tempat dimakamkannya Sayyidah Fatimah Maksumah sa adik kandung Imam Ridha as terbuka 24 jam. Dan peziarah selalu berdatangan tanpa henti. Aktivitas Islami tidak pernah tidak terlihat dikompleks itu. Ada yang mengaji, shalat, membentuk kelompok-kelompok kecil untuk membahas masalah agama, atau sekedar bercengkrama dengan keluarga. Anak-anak kecil bebas lari berkeliaran. Setelah berkeluarga, sayapun selalu membawa istri dan kedua anakku ditempat itu selepas maghrib dan pulang kerumah menjelang subuh. Yang menarik, dan menurut saya, ini nilai lebihnya Haram itu, tersedia posko-posko tanya jawab dan diskusi agama. Sebut saja seperti ruang pengaduan di gereja. Bukan untuk membeli surat pengampunan dosa. Sama sekali bukan. Melainkan untuk bertanya masalah agama: aqidah, akhlak dan fiqh serta konsultasi keluarga. Semua ada posko khususnya. Termasuk posko khusus mengecek benar tidaknya bacaan dalam shalat. Yang melayani adalah pakar-pakar Islam dibidangnya. Saya sering mampir bertanya masalah aqidah. Mereka menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan.

Disepanjang jalan, terpampang papan-papan reklame yang bertuliskan pesan-pesan Islami dan baliho-baliho besar gambar Ayatullah plus informasi jadwal pengajiannya (bukan baliho kampanye politik). Di baliho itu tertulis, hari ini kelas tafsir, besoknya kelas akhlak, lusanya kelas fiqh di sini dan disitu. Tidak hanya itu ceramah para Ayatullah itu disiarkan di tivi-tivi secara langsung bahkan lewat radio. Esoknya sudah tersedia cd-cd rekamannya di kios-kios CD, dan selalu laku keras. Warga Iran memang pendengar yang baik. Mereka betah mendengar ceramah ataupun pidato-pidato politik berjam-jam. Momentum shalat Jum'at dimanfaatkan pemerintah Iran untuk menyampaikan pesan-pesan politik. 2-3 jam sebelum khutbah Jum'at, jama'ah Jum'at dijejali orasi politik satu dua tokoh aktivis, kebanyakannya menceritakan kondisi dunia Islam, dan selalu terdengar slogan perlawanan terhadap AS dan Israel. Di mimbar Jum'at bahkan ditulis, AS letaknya dibawah kaki kami. Kalau pidatonya membakar, jama'ah serentak berdiri, mengepalkan tangan sembari meneriakkan yel-yel dukungan terhadap pemimpin mereka dan kecaman terhadap AS. Persis situasi demonstrasi di jalan-jalan. Dengan kondisi seperti itu, sangat ganjil kalau sampai ada yang mengantuk. Bagi yang sibuk dan tidak sempat membaca Koran tiap hari, cukup mendengarkan pidato-pidato tersebut, ia akan paham apa yang terjadi selama sepekan itu. Karena itu, rakyat Iran tidak mudah terpengaruh propaganda murahan dari media-media asing. Mereka mandiri disegala hal, ekonomi, keamanan, budaya, sosial dan politik.

Masjid-masjid di Qom, tidak terlalu besar, tapi lapang dan nyaman bagi jama'ah. Terdapat beberapa kursi, buat mereka yang kesulitan shalat dengan duduk melantai. Terdapat bantal sandaran, buat para orangtua lanjut usia untuk menyandarkan tubuhnya saat mendengarkan ceramah atau sekedar mengaji. Dan dihari-hari tertentu, sambil dengar ceramah kita bisa menikmati segelas susu dan 1-2 biji kurma yang disediakan gratis pengurus masjid. Setelah shalat, remaja masjid akan membagikan Al-Qur'an, hampir disemua masjid ada program membaca al-Qur'an satu-dua halaman berjama'ah. Dipimpin qari-qari yang bacaannya sangat merdu. Di Tv ada saluran khusus menyiarkan program-program Qur'ani. Semua acara serba Qur'ani. Kelas tafsir, kelas ulumul Qur'an. Bincang-bincang Al-Qur'an menjawab problem keseharian, termasuk menyiarkan profil-profil para penghafal Al-Qur'an. Iran kaya dengan hafiz Al-Qur'an. Mulai dari usia sekolah dasar, remaja sampai usia dewasa. Saya pernah mewancarai beberapa remaja Iran yang hafal Al-Qur'an. Mulai dari Ali Amini yang telah menghafal Qur'an di usia 8 tahun sampai Mujtaba Karsenasi yang menghafal 30 juz al-Qur'an diusia 15 tahun. Mereka adalah penerus dari Husan Tabatabai, Doktor Cilik Penghafal Qur'an, yang dikenal sebagai mukjizat abad 20 karena memiliki penguasaan dan pengetahuan Al-Qur'an yang mengagumkan, sampai mendapat gelar doctor honoris causa bidang studi Al-Qur'an. Wawancara saya itu dimuat dalam buku Bintang-bintang Penerus Doktor Cilik yang kususun bersama bu Dina Sulaeman dan suaminya, diterbitkan Pustaka Iiman pertengahan tahun 2011.

Toko-toko buku jumlahnya hampir berimbang dengan toko kelontong. Di tengah kota, hampir disetiap lorong ada toko buku. Bukan hanya buku-buku karya ulama Syiah namun juga kitab-kitab ulama Sunni. Diperpustakaan pun demikian. Meski berbeda, orang-orang syiah tidak fobia terhadap karya-karya ulama sunni. Hal yang berbeda dari mereka yang menyebut syiah itu sesat. Bisa jadi bahkan melihat langsung buku-buku syiah saja mereka tidak pernah.

Mahasiswa Indonesia di Iran, tidak semuanya Syiah. Ada juga yang Sunni. Mereka tersebar di Teheran, Ghorghon dan Esfahan. Untuk menepis fitnah, di Iran warga Sunni dibunuhi, disiksa dan mendapat perlakuan tidak adil dari pemerintah Iran yang Syiah, saya mewancarai teman asal Indonesia yang belajar di Universitas agama yang bermazhab Sunni. Namanya Syarif Hidayatullah dan wawancara itu dimuat di ABNA. Dari lisannya, ia menepis tudingan dan fitnah tidak bertanggungjawab itu.
Pemerintah Iran gemar menyelenggarakan event-event internasional. Konferensi Mahdawiyat, konferensi ulama Islam, konferensi pemuda Islam, konferensi perempuan Islam, MTQ Internasional dan Pameran kitab Internasional yang melibatkan banyak negara muslim. Karena itu, banyak tokoh-tokoh nasional kita yang mengunjungi Iran sebagai delegasi Indonesia dalam event-event tersebut. Selama di Iran, setidaknya saya sudah bertemu dengan DR. Amin Rais (tokoh Muhammadiyah), Prof. Quraish Shihab (mantan menteri agama dan mantan ketua MUI), Dr. Umar Shihab (ketua MUI Pusat) dan Muh. Maftuh Basyuni (menteri agama kabinet SBY-JK). Tokoh-tokoh nasional itu mengunjungi langsung kampus saya di Qom. Berbincang dan membuka ruang dialog dengan mahasiswa Indonesia di Qom. Tidak ada yang ganjil. Mereka tidak meminta kami waspada dengan Iran dan Syiahnya. Justru meminta semua mahasiswa Indonesia belajar serius dan bisa memanfaatkan ilmunya jika kembali ke tanah air. Dengan adanya event-event internasional yang melibatkan banyak negara muslim tersebut menyodorkan fakta yang tidak terbantahkan, Iran diakui keberadaannya sebagai negara Islam. Terlebih lagi Republik Islam Iran juga memang termasuk dalam anggota OKI, organisasi internasional yang beranggotakan khusus negara-negara yang bermayoritas penduduk muslim. Tidak ada satupun negara yang keberatan dengan penamaan Iran sebagai Republik Islam juga semakin menguatkan fakta itu.

Hubungan mahasiswa Indonesia di Qom dengan KBRI di Teheran pun sangat akrab. Berkali-kali pihak KBRI datang ke Qom mengadakan silaturahmi, buka puasa bersama, atau silaturahmi pasca lebaran. Mengundang untuk menonton timnas PSSI yang bertanding di Teheran. Ataupun pada saat 17 Agustus, upacara bendera dan makan bersama. Saya pernah meraih juara I lomba penulisan karya tulis ilmiah yang diadakan KBRI Teheran. Dan perlu teman-teman tahu, semua staff di KBRI Teheran tidak ada yang Syiah, semuanya Sunni. Kalaupun memang Sunni mendapat tindakan semena-mena dari pemerintah Iran, bahkan katanya di Teheran tidak ada masjid Sunni, staff KBRI yang akan lebih dulu menyampaikan hal itu. Atau minimal kedutaan besar Malaysia, Arab Saudi, Mesir, dst yang ada di Teheran. Mengapa yang getol menyebarkan propaganda negatif tentang Iran justru media-media yang tidak satupun staff atau wartawannya yang pernah ke Iran?. Guru-guru besar UIN Syarif Hdayatullah Jakarta bahkan sejumlah guru besar UIN Alauddin Makassar pernah ke Iran. Seorang Dosen Unismuh Makassar pernah ke Qom, mengadakan penelitian tesis doktoralnya. Saya yang menemani beliau berkunjung ke Teheran dan Masyhad. Mengajaknya shalat berjama'ah dibeberapa masjid-masjid. Ia shalat sambil bersedekap dengan tenang di tengah-tengah jama'ah Iran yang tidak bersedekap. Saya pernah menyambut tamu dirumah, ketua umum PB HMI, dan delegasi HMI yang ikut dalam konferensi perempuan internasional di Teheran. Kesemua tamu itu sunni. Dan sepulangnya mereka menulis pengalaman mereka selama di Iran dan dimuat dimedia. Tidak ada cerita sunni dibantai, cerita sahabat-sahabat Nabi dilaknat dimimbar-mimbar, tidak ada cerita mereka menemukan Al-Qur'an orang Iran yang berbeda, tidak ada cerita praktik nikah mut'ah yang kebablasan sampai katanya dimasjid-masjid di Iran disediakan ruangan khusus untuk melakukan praktik mut'ah. Yang ada semangat ukhuwah dan persahabatan yang menakjubkan dari orang-orang Iran yang mazhabnya beda.

Saya yang sampai saat ini masih berada di Iran masih sering mendapat kiriman konten-konten yang negatif tentang Iran dan Syiah, sembari menasehatkan saya tentang bahaya Syiah. Saya tegaskan, sekalipun pada akhirnya saya tidak memilih Syiah sebagai mazhabku dalam berIslam, saya tidak akan merusak diri dengan mengkafirkan sesama muslim. Yang mengkafirkan orang-orang Syiah yang juga bersyahadat, shalat, puasa, zakat dan naik haji. Saya tidak mungkin mau menghina akal sehat dan rasioku dengan lebih mempercayai mereka dari apa yang saya lihat dan rasakan langsung. Kalau Prof. Amin Rais, DR. Diin Syamsuddin, KH. Hasyim Mazudi, Habib Rizieq, Muh. Maftuh Basyuni , guru-guru besar UIN, akdemisi Universitas2 Islam Indonesia yang dengan hanya beberapa jam di Iran telah berkesimpulan untuk tidak sampai mengkafirkan Syiah bagaimana dengan saya yang hidup ditengah-tengah mereka bertahun-tahun, dan melihat langsung amalan-amalan mereka?.

Sayang, bahkan selama Ramadhan inipun mereka kelompok takfiri masih juga getol menyebar berita dusta tentang Iran dan rakyatnya. Kebanyakan yang melakukan itu adalah aktivis dakwah, aktivis ormas Islam, bahkan katanya akademisi di lembaga penelitian. Apa ketika saya kembali ke tanah air, dan kembali ditemui oleh KH. Said Abdushshamad (sekarang sudah Kyai Haji) dan menjelaskan kepada saya tentang Iran seakan lebih tahu dari saya sendiri yang menetap bertahun-tahun di Iran dan mengingatkan tentang kesesatan dan kekafiran Syiah seakan lebih tahu dari saya yang mendengar langsung ceramah-ceramah Syiah dari Ayatullah di Qom, apa saya akan mempercayainya karena beliau Kyai Haji, karena beliau ketua umum LPPI Indonesia Timur dan karena beliau jauh lebih tua dari saya?.
Sangat mengerikan menyerahkan urusan Islam kepada mereka.

Minggu, 05 Juli 2015

GAGAH BERSORBAN TAPI DANGKAL

Alhamdulillah saya terlahir dari orang tua muslim kaum nahdliyin yg menghindari jauh-jauh sifat takfiri (mudah menyatakan bid'ah/dosa/sesarlt kepada saudara sesama Muslim) & menghargai/menghormati umat beragama lain.
GAGAH BERSORBAN TAPI DANGKAL
Asalamualaikum wr..wb.
Ini kisah nyata beberapa tahun yang lalu dari kejadian saat sosok ulama moderat NUsantara Kyai khos NU Gus Mus di kebumen Jawa Tengah. Pada pertemuan para kiyai NU di Kebumen yang juga mengundang kiyai2 di luar NU.
Datang segerombolan orang yang berpakaian ala sorban pangeran diponegoro termasuk kiyainya.
Ketika pada acara tanya jawab buru2 kiyai yang berpakaian Diponegoro tsb mengambil mix dan bicara :
"Walaupun di luar topik pembahasan, mumpung di sini ada Gus Mus saya mo tanya, apa betul Gus Mus dekat dengan Gusdur?"
Gusmus : "Ya kata orang2 sih begitu."
Kiyai : "Kebetulan, tolong sampaikan kepada Gus Dur, kita ini yang dibawah cape2 mau menghabisi orang2 nasroni eeh dia malah datang ke natalan."
Gus Mus : "Nanti dulu, nanti dulu kenapa kalian mau menghabisi itu orang2 nasrani?"
Kiyai : "Loh!? sampean itu gimana!!? mereka itu kan kafir?"
Gusmus : "Jadi kalau kafir harus dihabisi?"
Kiyai : "Iyya dong! yang kafir harus dihabisi!?"
Gus Mus : "Wah !!! untung kanjeng Nabi Muhammad bukan sampean, kalau sampean kita ini masih kafir semua, dulu yang islam cuma kanjeng Nabi tok, kalau ada kafir habisi... ada kafir habisi... ya tinggal Nabi tok, dan untung Wali Songo tidak seperti sampean... kalau seperti sampean kita ini masih hindu budha semuaa..
‪#‎Islam‬ NUsantara

Kamis, 02 Juli 2015

SUMPAHKU: TAK SUDI AKU CIUM TANGANMU GUS DUR

SUMPAHKU: TAK SUDI AKU CIUM TANGANMU GUS DUR
Saat nyantri di sebuah pesantren, bahkan awal-awal kuliah ada 2 hal yang ekstrim dan kaku dalam cara pandang dan sikap keislamanku. Pertama, saya anti Pancasila. Kedua, sumpahku: saya tidak akan cium tangan Gus Dur. Mengapa?Wali ke-10 ini, dulu saat saya baru melek dunia intelektual, bagi saya merusak Islam, agen Yahudi dan pemikirannya aneh, nyeleneh dan bikin pusing. Gak mudeng!
Padahal, secara sosiologi dan budaya saya lahir dari keluarga NU.KH. Zayyadi, kakekku santri Mbah Kholil. Waliyullah dan guru bagi kiai-kiai se-Madura dan Jawa. Satu "kotakan", gubuk dan ruangan dengan KH. As'ad Syamsul Arifin Situbondo.
Bagaimana saya bisa cinta pemikiran keislaman Gus Dur?Bgimna sy batalkan sumpah,bahkan dengan lahap mencium tangannya?
Akhir 99, pasca lepas dari sektariat Golkar di MPR, saya ngajar di SMU Madania Bogor. Sekolah berasrama ini digagas oleh Cak Nur. Di sinilah saya mulai dekat, mengenal, membaca dan sesekali ngobrol bila beliau datang. Secara intens saya diasah oleh suhu Nafis, muridnya dan direktur boarding ini. Sejak itu saya menikmati garis metodologi dan ideologi keislaman, keindonesian dan kemodernan. Akrablah saya dengan istilah inklusivisme, al-hanifiyat al-samhah, toleransi, pluralisme, egaliter, Piagam Madinah dll. Pokoknya wacana Islam kontemporer.
Saat nempuh S-2, saya lebih dekat lagi dengan Cak Nur. Saya jadi staf di Yayasan Wakaf Paramadina. Bahkan diusulkan jadi sekpri beliau. Tak jadi karena hal lain.
Cak Nur dan Gus Dur itu berkeluarga dan berkarib sangat dekat. Itulah penyambung saya ke Gus Dur. Kapan saya awal kali nyium tangan Gus Dur?
Saat ultah Paramadina. Saat itu saya jadi penanggung jawab Klub Kajian Agama (KKA). Rangkaian acaranya,salah satunya bedah buku. Lokasinya di kampus Paramadina. Narsumnya Gus Dur dan Kang Jalal.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Para undangan: ada menteri, pejabat, dosen, para civitas kampus dan jamaah sudah resah. Gus Dur tidak muncul2. Sebagai penanggung jawab acara saya panas dingin. Ketua Yayasan suda gak sabar dan minta tanggung jawabku.
Saya telpon mas Sulaiman, ajudan Gus Dur. Beliau ada di PBNU. Tapi, "Gus Dur tidur mas. Saya tidak berani bangunin", katanya. Waduh, mumet, keringatan dan meriang diriku.
Saya membeku di teras lobby kampus . Sendirian. Lalu saya baca fatihah. "Gus, bangun. Kalau tidak, sungguh saya tidak akan pernah cium tangan jenengan", batinku bicara mengarah ke Gus Dur. Tiba2, Sulaiman telpon. "Gus Dur sudah bangun dan otw ke kampus", infonya.
Tak lebih 15 menit mobilnya sudah tiba di halaman kampus. Saya songsong kursi rodanya. Saya jemput tangannya dan saya cium beberapa kali. "Maafkan saya Gus", kataku. "Tak apa.Kamu kan gak kenal saya saat itu", jawabnya. Lho, ya, Allah, bagaimana ia tahu sumpah kurang ajarku saat masa lalu?!. Aku kangen jenengan Gus. Lahu alfatihah.

Tentang Cak Nun


Tentang Cak Nun Kita
Pada suatu pengajian Cak Nun di Demak, tiba-tiba ada seorang remaja naik ke atas panggung. Dengan sigap, panitia acara lantas mengusir remaja laki-laki gila tersebut, karena panitia dan masyarakat sekitar tahu bahwa remaja laki-laki tersebut memang terkenal gila betulan.
Di saat ribuan orang menganggapnya gila, hanya satu orang yang mau menyapa hatinya. Cak Nun memanggil remaja laki-laki gila tersebut untuk kembali ke atas panggung. Di saat ribuan orang menganggapnya seperti virus penyakit sehingga harus dijauhi, bahkan kalau perlu diludahi kalau nekat mendekat, Cak Nun langsung mendekap tubuh bocah kesepian tersebut.
Bocah tersebut pun sangat kaget, karena di dunia ini masih ada orang yang mau menyapa hatinya, bahkan memeluk tubuhnya. Tanpa ada rasa jijik sedikitpun. Tanpa ada rasa malu sedikitpun. Sosok berbaju putih tersebut justru memeluknya semakin mesra dan menatap ribuan jama’ah sambil tersenyum. Seolah Cak Nun ingin bilang pada masyarakat Demak, “Ini salah satu anakku.”
Remaja laki-laki itu memang bocah kesepian. Namanya Edy Setiawan. Sudah yatim-piatu, dianggap orang gila pula. Hidup sebatang kara di dunia ini. Tidak ada yang mau menjadi temannya. Mungkin kalau ia mendekati teman-teman sebayanya, ia akan dipukuli agar takut mendekat lagi. Mungkin kalau ia duduk-duduk di warung makan, ia akan langsung diberi krupuk dan diusir.
***
Seorang Muhammad Ai(nun) Nadjib memang manusia berlian. Hati beliau bening, mengkristal indah, dan bisa memancarkan cahaya kasih sayang. Meski luar biasa “mahal”, seorang Cak Nun tidak risih bercengkrama dengan rakyat jelata, bahkan mau memeluk orang gila.
Meski diakui kadar intelektualitasnya oleh profesor-profesor dari negara maju di Eropa Barat, Cak Nun mau mendidik orang-orang di perdesaan yang mungkin kebanyakan hanya tamatan wajib belajar 9 tahun. Bercengkrama semalam suntuk. Mendengarkan keluh kesah. Membesarkan hati. Selama 20 tahun keliling Indonesia tanpa henti. Sudah “jalan kaki” ke lebih dari 1.300 desa di 28 provinsi.
Cak Nun tidak mengenal gengsi seperti kebanyakan diri kita. Meski sering keliling dunia di empat benua, bertemu petinggi-petinggi negara dan pemuka agama taraf internasional, beliau mau berteman akrab dengan kuli-kuli gendong di pasar. Meski sahabat seorang raja (Sultan HB X), beliau tetap mau kumpul-kumpul cekakakan dengan para preman dan para tukang becak.
Meski sangat ditakuti Pak SBY yang konon mengaku seorang presiden, beliau mau menerima telepon dari seorang gelandangan. Beliau tidak risih, bahkan bergembira, mendengar “laporan” pemuda pengangguran 35 tahun yang berlagak intelijen tentang situasi demo di depan DPR.
Meski di-kiyai-kan oleh para kiyai, Cak Nun tetap mau mengadakan pengajian khusus untuk para pelacur di beberapa tempat. Tidak pernah memvonis masuk neraka, tapi untuk membesarkan hati. Para pembaca tulisan saya ini yang dari kalangan pesantren pasti akrab dengan dua adagium ini: Kalau tidak bisa mempebaiki, jangan menambah kerusakan. Menghindari mudharat lebih diutamakan daripada mengharapkan manfaat.
Kalau diri kita tidak bisa menolong para pelacur untuk keluar dari lembah hitam, diri kita jangan juga lantas memutus harapan para pelacur dari kasih sayang Allah. Ingin tampak lebih gagah dan lebih suci? Hanya orang yang tidak gagah dan tidak suci yang butuh pengakuan.
Jangankan membutuhkan pengakuan, bahkan beliau senang menutupi aneka kebesaran yang sudah melekat pada dirinya sendiri. Sekalipun keturunan Imam Zahid, tapi tidak mau dipanggil “gus”. Perlu para pembaca tahu, Imam Zahid itu sahabat Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari, sama-sama santri kinasihnya Syaihkona Kholil Bangkalan. Tak heran pula Gus Dur sangat menyayangi Cak Nun, demikian pula sebaliknya.
***
Ketika seorang presiden “menasionalisasi” Lumpur Lapindo, bahkan menyebutnya sebagai bencana alam, akhirnya Cak Nun yang pasang badan untuk 11.800 keluarga korban. Cak Nun sendiri yang menelpon Ibu Rosmiyah Bakrie, meminta agar anaknya mau menyantuni puluhan ribu warga Sidoarjo, meski pengadilan telah menyatakan perusahaan anaknya tidak bersalah.
Ketika bentrokan antara perusahaan budidaya udang dengan petambak udang di Tulangbawang sudah memuncak, hingga menewaskan tiga orang dan membuat cukup banyak orang luka-luka, Cak Nun tampil menengahi kedua pihak. Beliau pun meminta diadakannya perubahan paradigma pemerintahan kabupaten Tulangbawang dan pembenahan pada tingkat elit perusahaan. Alhasil, selang beberapa waktu, kedua pihak tersebut tidak hanya rukun, tapi juga semakin sejahtera. Perusahaan budidaya udang semakin laba, para petambak udang semakin sejahtera.
Tentu masih banyak cerita heroik lainnya. Lalu, demi pamrih apakah Cak Nun tampil dimana-mana? Popularitas? Uang?
Jika Anda menganggap perjuangan seorang Muhammad Ainun Nadjib untuk materi dunia, pasti Anda ditertawakan Pak Harto. Sedikit cerita, sejengkel-jengkelnya Pak Harto pada kritikan pedas Cak Nun terkait jalannya Orde Baru, Pak Harto tidak bisa memenjarakan beliau. Pak Harto sangat tahu bahwa beliau tulus orangnya.
Satu-satunya orang yang berani “kurang ajar” pada Pak Harto hanya Cak Nun—semisal lingguh jigang atau berambut gondrong saat di istana—dan Pak Harto tidak bisa marah. Ketika Cak Nun bilang kepada Pak Harto untuk segera mandeg pandhito, Pak Harto hanya diam tersenyum dan mengangguk. Sebab Pak Harto tahu Cak Nun kalau ngomong sesuatu bukan untuk dirinya sendiri. Diiming-imingi saham perusahaan, Cak Nun menolak. Ditawari jabatan menteri pada 1980-an, Cak Nun juga menolak.
Semua perjuangan ikhlas demi rakyat. Orang bisa berbohong dan berhasil membohongi banyak orang, tapi tidak akan bisa bertahun-tahun. Level penipu ulung sekalipun. Sebab manusia digariskan tidak akan tahan menjadi bukan dirinya sendiri lama-lama. Ini rumusnya.
Seorang Muhammad Ainun Nadjib mampu mengayomi rakyat 20 tahun lamanya, tanpa pernah meminta upah seperser pun. Dari 20 tahun lalu hingga detik ini beliau tidak pernah berubah. Selalu mengayomi rakyat.
Ketika dulu masih muda, setelah shalat di mushola, beliau mendapat suatu ilham. Tanpa pikir panjang, beliau segera menelpon saudara-saudaranya di Jombang. Minta dicarikan empat orang yang sangat miskin tapi akhlaknya baik malam itu juga. Sebab besok paginya beliau akan mengirim uang ke Jombang, untuk ongkos naik haji keempat orang tersebut.
Tetap saja begitu hingga sekarang. Beliau tetap sering mengirimkan uang ke banyak orang miskin. Entah untuk ongkos naik haji, entah untuk modal usaha bikin warung kelontong, entah untuk beasiswa, dan sebagainya.
Apakah persediaan uang tersebut ada dengan jalan meminta? Atau mengajukan proposal? Tidak pernah sekalipun.
Dulu Cak Nun pernah akan diberi cek dengan nominal Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) oleh seorang pengusaha, tapi cek tersebut langsung disobek beliau. Sekadar info, menyobek cek itu aslinya tidak apa-apa, karena uangnya tetap utuh di dalam brangkas bank. ”Kalau ketemu saya lagi, mending ditraktir makan saja,” kata beliau sambil tersenyum.
Ciri-ciri pejuang sejati adalah mampu menghidupi perut dan idealisme dirinya sendiri. Ciri-ciri pejuang sejati adalah mampu menolong orang lain dengan hasil kerja keras dirinya sendiri.
***
Indonesia ibaratnya adalah sebuah kapal yang panjangnya 12,5 kilometer. Kapal raksasa ini mempunyai 39 rusuk. Ada sekitar 15 rusuk yang sudah retak, dan sungguh kapal ini tinggal menunggu waktu untuk tenggelam, kalau tidak diperbaiki. Apalagi empat dari lima ruangan utama kapal ini sudah hancur.
Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi, yang jelas, suatu hari Indonesia akan mendatangi kesejatian, karena kepalsuan bersifat sementara dan kegelapan bersifat menghancurkan. Indonesia mau tidak mau akan mengikuti kesejatian, sebab hanya kesejatian yang memiliki perspektif masa depan cerah.
Tulisan ini sama sekali bukan untuk me-monumen-kan Muhammad Ainun Nadjib, karena haram hukumnya mabuk pada seseorang. Ketika saya menulis tentang Cak Nun, Gus Dur, Gus Mus, atau yang lainnya, harapan saya adalah untuk dijadikan uswatun hasanah.
Jika kita menjadikan “Cak Nun” sebagai kata kerja yang cair dan dinamis, bukannya sebagai kata benda yang padat dan statis, maka beliau akan bernasib sama dengan Bung Karno dan Gus Dur kelak. Tidak ada manusia yang hidup abadi, tapi dengan suatu mekanisme cinta, beliau akan bisa tetap selalu hidup...di hati kita.
Saya tidak berani berharap apa-apa pada Indonesia. Bangsa ini memang tidak butuh Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, maupun Muhammad Ainun Nadjib, karena ketiganya manusia yang agung.
Suatu hari, karena tidak kuat membayar ustadz yang muda, ganteng dan terkenal, akhirnya para TKW di Hong Kong meminta Cak Nun yang datang. Di luar dugaan, Cak Nun hanya mau dengan tiga syarat; (1) Tidak mau dibayar, (2) tidak perlu dijemput di bandara, dan (3) tidak mau tidur di hotel.
Akhirnya, Cak Nun terbang ke Hong Kong dengan kocek sendiri, menuju lokasi naik bus, dan istirahat malam di rumah inap biasa. Ketika ditanya para TKW Hong Kong kenapa sampai berbuat demikian, beliau menjawab, “Aku datang sebagai bapakmu.”
Muhammad Ainun Nadjib. Perpaduan antara kedahsyatan dengan kelembutan. Pengayom sebuah bangsa yang yatim.

Kamis, 04 Juni 2015

Ciri Khas Orang Yang Punya Kekuatan Mental

Inilah 13 Ciri Khas Orang Yang Punya Kekuatan Mental Hello-pet

Apakah kamu ingin menghadapi hidup dengan santai tanpa tertekan atau stres? Saat menyadari bahwa hidup itu keras dan sulit mungkin pernah berfikir apa alasanmu dilahirkan di dunia ini. Daripada terus meratapi nasib dan mengeluh, mengapa kamu tidak mencoba menguatkan diri dan mental untuk menghadapi kehidupan ini?

Orang-orang bermental kuat memiliki kebiasaan yang sehat. Mereka dapat mengatur emosi, pikiran dan perlakuan mereka sedemikian rupa sehingga mereka siap menuju kesuksesan. Inilah beberapa hal yang tidak dilakukan oleh orang-orang tersebut, siapa tahu bisa anda juga bisa menjadi lebih kuat mentalnya.

1. Tidak Menghabiskan Waktu Untuk Mengasihani Diri Sendiri.


Orang yang bermental kuat tidak hanya duduk berdiam diri saja dan mengasihani diri mereka atas situasi atau atas perlakuan orang lain padanya. Yang mereka lakukan adalah mereka bangkit dan bertanggung jawab, mengambil peranan dalam hidup dan mengerti bahwa hidup tidaklah selalu mudah.

2. Berpegang Teguh Pada Kekuatan Sendiri.


Mereka tidak membiarkan orang lain mengendalikan mereka, dan mereka tidak membiarkan kekuatan orang lain mengendalikan mereka. Kalimat seperti, “Perasaanku jadi ga enak gara-gara bos,” tidak akan muncul, karena merekalah yang memegang kendali atas emosi mereka, mereka tahu cara mengontrol emosi.


3. Berani Menghadapi Perubahan


Orang bermental kuat tidak menghindari perubahan, tetapi mereka menerimanya dan mau menjadi lebih fleksibel. Mereka mengerti bahwa perubahan tidak dapat dihindari dan percaya bahwa mereka dapat beradaptasi.

4. Tidak Menghabiskan Tenaga Untuk Hal Yang Tidak Bisa Mereka Kendalikan


Orang yang bermental kuat tidak akan mengeluh jika koper mereka hilang ataupun terjebak kemacetan. Justru mereka fokus pada hal-hal yang bisa mereka kendalikan. Mereka sadar bahwa, kadang-kadang yang sebenarnya harus dikendalikan adalah sikap mereka.

5. Tidak Mengkhawatirkan Tentang Membuat Orang Lain Senang


Mereka tahu bahwa menyenangkan orang lain tidak perlu selalu dilakukan. Mereka berani untuk berkata tidak dan mengeluarkan pendapatnya apabila perlu. Mereka berusaha untuk menjadi baik dan adil, tetapi juga dapat mengatasi orang yang kecewa terhadap mereka.

6. Berani Menghadapi Resiko Yang Telah Diperhitungkan


Mereka tidak ceroboh dan tidak mau menghadapi resiko-resiko yang konyol, tetapi berani menghadapi jika resiko tersebut telah diperhitungkan. Waktu dihabiskan untuk mempertimbangkan resiko dan keuntungan sebelum mengambil keputusan besar, dan mereka tahu sekali akan potensi buruk yang akan mereka hadapai sebelum mereka bertindak.

7. Tidak Terjebak di Masa Lalu


Mereka tidak terjebak di masa lalu dan tidak berharap kalau saja mereka bisa mengubahnya. Mereka menerima masa lalu dan belajar dari itu. Mereka menjalani kehidupan saat ini dan merencanakan masa depan.

8. Tidak Mengulangi Kesalahan Yang Sama


Mereka bertanggung jawab atas perilaku mereka dan belajar dari kesalahan masa lalu agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Mereka terus maju ke depan dan membuat keputusan-keputusan yang lebih baik.

9. Tidak Membenci Kesuksesan Orang Lain


Mereka dapat menghargai kesuksesan orang lain. Tidak ada kecemburuan ataupun rasa dicurangi pada saat orang lain melebihi mereka. Mereka tahu bahwa sukses tersebut datang dengan kerja keras dan mereka mau bekerja keras untuk kesuksesan mereka sendiri.

10. Tidak Menyerah Setelah Kegagalan Pertama


Mereka tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk menyerah. Tetapi mereka menganganggap itu sebagai kesempatan untuk berkembang dan memperbaiki diri. Mereka terus mau mencoba sampai berhasil.

11. Tidak Takut Menghadapi Kesendirian


Mereka bisa hidup sendiri dan tidak takut pada keheningan. Mereka menggunakan waktu sendirinya untuk menjadi produktif, dan menikmatinya tanpa harus selalu bergantung pada keberadaan orang lain dan hiburan-hiburan. Mereka bisa bahagia di waktu sendirinya.

12. Tidak Merasa Dunia Berhutang Kepada Mereka.


Mereka lahir dengan mental bahwa mereka tidak harus diurus atau dijaga orang lain, dan juga tidak merasa bahwa dunia seharusnya memberi kepada mereka. Mencari kesempatan-kesempatan adalah ciri mereka.

13. Tidak Mengharapkan Hasil Yang Instant

Dalam hal penyembuhan ataupun memulai bisnis baru, mereka tidak berharap hasil yang instant. Tetapi mereka menggunakan kemampuan dan waktu mereka dengan maksimal dan mengerti bahwa perubahan sebenarnya butuh waktu.

Rabu, 03 Juni 2015

Penyakit Ikan Gurame dan Pengendaliannya

Ada dua kelompok besar yang dapat menyebabkan ikan terserang sakit. Pertama penyakit akibat gangguan jasad hidup atau biasa disebut dengan penyakit parasiter. Kedua, penyakit yang bukan disebabkan oleh jasad hidup, tetapi lebih disebabkan oleh faktor fisika dan kimia perairan yang disebut penyakit non-parasiter.
Penyakit parasiter banyak disebabkan oleh jasad renik, berupa bakteri, jamur, virus, protozoa, nematoda dan udang renik. Sementara itu, penyakit non-parasiter disebabkan oleh buruknya kualitas pakan atau tercemarnya air oleh zat kimia tertentu.

Penyakit Parasiter

1. Bintik putih

Penyakit ini disebabkan oleh protozoa yang memiliki bulu getar, yaitu Ichthyophthirius multifillis. Parasit ini biasanya berada di bawah lapisan epidermis kulit. Gejala yang ditimbulkan adalah warna tubuh gurami menjadi pucat akibat dari adanya bintik putih di seluruh badan ikan. Gurami terlihat sering menggosok-gosokkan badannnya ke bagian dasar atau dinding kolam atau terlihat megap-megap dan sering berkumpul di tempat pemasukan air karena kekurangan oksigen.
Penyakit ini dapat menular melalui penggunaan peralatan yang tidak bersih. Penularan juga dapat terjadi akibat suhu air yang rendah (kurang dai 22 C), kurang makan, atau tertular penyakit dari ikan liar.

Cara Pengendaliannya

Pengendaliannya dapat dilakukan dengan merendam gurame dalam larutan formalin 25 ml/m3 air. Selain itu, pengendalian juga dapat dilakukan dengan cara menaikkan temperatur air kolam hingga mencapai 28 C.
Kembali ke Daftar Isi

2. Myxosporeasis

Penyakit myxosporeasis disebabkan oleh parasit Henneguya sp. dan Thellohanelus sp. yang menyerang insang. Gurami yang diserang penyakit ini biasanya sudah berumur satu bulan ke atas. Gejalanya muncul pembengkakan di bagian insang dan badan gurami.
Penyakit ini muncul akibat kualitas air yang buruk, kandungan oksigen terlarut rendah, dan kepadatan gurami yang terlalu tinggi. Penyakit ini dapat menular melalui air. Pencegahannya dapat dilakukan dengan mengendapkan air sebelum diisikan kolam. Sementara itu, penanggulangannya dilakukan dengan mengeringkan kolam karena belum ada obat yang ampuh untuk menyembuhkan penyakit ini.

3. Cacing insang dan cacing kulit

Penyakit cacing insang dan cacing kulit disebabkan oleh parsit Dactylogyriasis yang menyerang benih gurami, terutama di bagian badan dan insang. Gejalanya gurami tampak lemah, nafsu makan berkurang, dan sering berkumpul di permukaan air karena kekurangan oksigen.
Timbulnya penyakit ini didukung oleh kualitas air yang buruk, kekurangan pakan, padat tebar terlalu tinggi, dan suhu udara rendah. Penyakit ini dapat menular melalui media air. Mengatasinya dapat dilakukan dengan cara merendam benih gurami di dalam larutan garam dapur 300 g/m3 air selama 24 jam. Selain itu, benih juga dapat direndam di dalam larutan formalin 40 ml/m3 air selam 24 jam.
Kembali ke Daftar Isi

4. Kutu ikan

Penyakit kutu ikan disebabkan oleh Argulus sp. yang menyerang dengan cara menggigit seluruh bagian badan gurame. Di sekitar bekas gigitan akan terjadi perdarahan, yang jika dibiarkan akan semakin menghebat. Munculnya penyakit ini dipengaruhi oleh kualitas air yang buruk. Penularan terjadi melalui air dan kontak langsung antara gurami yang sehat dan gurame yang sakit. Penyakit ini dapat diatasi dengan cara merendam ikan di dalam larutan garam dapur 1,25% selama 15 menit.

5. Bercak merah

Penyakit bercak merah disebabkan oleh bakteri Aeromonas punctata dan Aeromonas hydrophylla. Badan gurami yang terserang penyakit ini akan berwarna gelap dan kulitnya menjadi kasar (akibat kekurangan lendir). Selain itu, gurami sering muncul ke permukaan air akibat kekurangan oksigen.
Mengatasi penyakit ini dapat dilakukan dengan cara merendam gurami di dalam larutan Oxytetracyclin 205 ppm. Perendaman dilakukan tiga kali berturut-turut, masing-masing selama 24 jam. Mengobati bekas luka dapat dilakukan dengan mengoleskan obat merah yang diencerkan. Satu mililiter obat merah dilarutkan ke dalam 10 ml air, lalu dioleskan ke bagian badan gurami yang luka.
Namun, sekarang telah ditemukan vaksin khusus yang dikenal dengan nama vaksin Hydovet untuk mencegah serangan bakteri Aeromonas hydrophylla. Caranya dengan menyuntikkan vaksin Hydrovet 0,8 ml/kg bobot tubuh ke induk betina. Vaksinasi maternal pada induk ikan gurami ini ternyata dapat meningkatkan ketahanan benih terhadap serangan bakteri A. hydrophilla. Hal ini diketahui dari terbentuknya antibodi pada induk dan benih gurami melalui titer antibodi. Vaksinasi maternal dapat menekan angka kematian ikan gurami hingga 10%. Teknik vaksinasi ini dapat dilakukan dengan mudah. Vaksin yang digunakan juga telah tersedia di pasaran degan harga relatif murah jika dibandingkan dengan kenaikan produksi.
Kembali ke Daftar Isi

6. Columnaris

Penyakit columnaris disebabkan oleh parasit Flexybacter columnaris yang menyerang bagian sirip dan insang. Penyakit ini menyerang gurami dengan berbagai umur. Gejala klinis yang muncul adalah ikan menjadi lemas, nafsu makan berkurang, sirip rontok, dan insang terkelupas.
Penyakit ini dapat menulai melalui media air atau kontak langsung antara ikan sehat dengan ikan yang sakit. Pencegahan dapat dilakukan dengan melaksanakan sanitasi yang baik, mendesinfeksi peralatan, dan mengurangi kandungan bahan organik terlarut di dalam kolam. Gurami yang telah terserang penyakit ini, dapat diobati dengan cara direndam di dalam larutan Baytril 8-10 ppm selama 24 jam.

7. Trichodina

Penyakit trichodina disebabkan oleh parasit Trichodina sp. yang menyerang bagian kulit dan sirip ikan. Serangan penyakit ini menyerang bagian kulit dan sirip ikan. Serangan penyakit ini menyebabkan luka di sekujur bagian yang diserang. Penyakit ini dapat diatasi dengan cara merendam ikan di dalam larutan garam dapur 500-1.000 mg/l air selama 24 jam atau di dalam larutan formalin 25 mg/l air selama 24 jam.
Kembali ke Daftar Isi

8. TBC

Penyakit TBC sudah menjadi momok bagi para peternak gurami. Penyakit ini dapat menimbulkan kematian hingga 30-70%. Bahkan, jika lingkungan kurang mendukung, seperti air kotor dan suhu dingin, tingkat kematiannya dapat melebihi angka tadi. Kerugian yang ditimbulkan tidak hanya secara kuantitas, tetapi harga jualnya pun turun karena tampilan ikan jelek. Penyakit TBC disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium sp., terutama Mycobacterium fortuitum.
Parasit Mycobacterium fortuitum akan menyerang gurami, terutama yang sedang stres. Stres pada gurami dapat disebabkan oleh kualitas air yang jelek. Kualitas air kolam yang menurun dapat disebabkan adanya tumpukan limbah rumah tangga di dasar kolam. Keadaan ini menyebabkan bahan organik terlarut meningkat dan pH air menurun. Pada keasaman yang tinggi, oksigen terlarut menjadi sedikit dan bakteri yang berkembang menjadi lebih patonegik sehingga ikan gurami mudah stres.
Perbedaan suhu yang ekstrim antara malam dan siang (10-15 C) juga dapat mengakibatkan ikan lemah dan stres. Karena itu, serangan penyakit ini biasanya akan mengganas pada peralihan musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Jika suhu air di bawah 26 C, bakteri dengan mudah menembus sistem pertahanan ikan.
Gejala gurami terserang penyakit TBC di antaranya nafsu makan berkurang. Akibatnya, sistem peredaran darah akan terganggu. Selain itu, adanya serangan bakteri atau patogen akan merangsang produksi lendir yang berlebih. Lendir ini berfungsi sebagai benteng pertahanan. Semakin gencar serangan bakteri, lendir yang dikeluarkan pun semakin banyak. Akibat produksi lendir yang berlebihan, lama-kelamaan kulit gurami mengering dan terkelupas.
Gejala lain gurami terserang TBC adlaah kulitnya menjadi lebih gelap dan timbul bercak merah hingga perdarahan di sekujur badan. Bercak merah biasanya ditemukan pertama kali di pangkal ekor atau di daerah sekitar anus. Jika bakteri lama berada di dalam badan gurami, akan muncul benjolan-benjolan kecil dan bagian perut ikan membengkak (dropsy). Bahkan, mata gurami akan menonjol seperti hendak jatuh. Benjolan atau pembengkakan ini disebabkan adanya pertumbuhan granuloma atau tubercle. Jika benjolan tersebut dibedah akan tampak granuloma berupa bintil-bintil kecil berwarna kemerahan. Granuloma ini merupakan hasil metabolisme bakteri Mecobateriosis fortuitum. Granuloma juga dapat menyebar ke organ lain, seperti ginjal, hati, dan limfa.
Penyakit TBC bersifat zoonosis, yaitu selain menginfeksi ikan, juga dapat menyerang manusia. Karyawan yang sering menangani ikan sakit dapat tertular penyakit ini jika tidak segera mencuci tangan. Jika terinfeksi biasanya akan timbul bintik-bintik atau koreng pada kulit kita. Dengan kemampuan virulensi yang tinggi, infeksi ini dapat menyebar dengan cepat.
TBC pada gurami termasuk penyakit yang sulit diobati. Jika seekor gurami terserang bakteri mematikan ini, seisi kolam dapat tertular. Penularan dapat terjadi melalui air, kontak tubuh, atau peralatan yang digunakan. Namun, jika sudah terjadi serangan dapat diatasi dengan menggunakan antibiotik Rifampisin dosis 10-20 mg/kg bobot tubuh atau Etambutol-HCl dosis 15-20 mg/kg bobot tubuh. Pengobatan ini memerlukan waktu sekitar enam bulan, bahkan lebih.
Melihat proses pengobatan yang memakan waktu lama dan obat yang digunakan juga banyak, otomatis biaya yang dikeluarkan juga bertambah. Karena itu, satu-satunya jalan yang efektif agar gurami tidak terserang penyakit TBC adalah pencegahan secara intensif. Pencegahan dapat dilakukan melalui perawatan kolam yang benar, menjaga kualitas air tetap baik, dan memberikan pakan yang benar.
Perawatan kolam yang dilakukan dengan cara membersihkan kolam setelah proses pemanenan. Lumpur dan kotoran yang mengendap di dasar kolam dibuang. Lapisan tanah di dasar kolam dibalik, lalu ditabur kapur pertanian sebanyak 100-150 g/m2. Jika tanah dasar kolam beraksi asam, dosis kapur yang ditambahkan dapat mencapai 200 g/m2. Selain sebagai desinfektan, kapur juga berguna untuk menurunkan keasaman air. Setelah diberi kapur, kolam dikeringkan selama satu minggu.
Sebelum dimasukkan ke dalam kolam, benih gurami sebaiknya diaklimatisasi agar terhindar dari stres. Caranya dengan menambahkan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam kantong pengangkutan. Setelah itu, kantong pengangkutan yang sudah terbuka itu diapungkan di atas permukaan air kolam dan ikan dibiarkan keluar dengan sendirinya.
Agar tidak mudah terserang penyakit (meningkatkan daya tahan tubuh), gurami sebaiknya diberi imunostimulan. Misalnya, vitamin C dosis 150-500 mg/kg bobot tubuh yang diberikan selama 7-10 hari ketika benih gurami seukuran korek api. Selain vitamin C, benih gurami juga dapat diberi lipopolisakarida dosis 10 mg/liter. Untuk menekan pertumbuhan bakteri, pakan ikan gurami dapat ditambah dengan probiotik, seperti Super NB atau Aquasin dosis 1ppm seminggu sekali.
Kembali ke Daftar Isi

Penyakit Non-parasiter

Penyakit non-parasiter disebut juga dengan penyakit non-infeksi. Penyakit ini disebabkan oleh kualitas media yang jelek atau penanganan budi daya yang salah. Penyakit non-parasiter dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu penyakit nutrisi, penyakit kejenuhan gas, dan penyakit kekurangan oksigen.

1. Kekurangan nutrisi

Penyakit ini disebabkan kekurangan asam amino dan vitamin pada pakan. Selain itu, juga dapat disebabkan keracunan alfatokin. Penyakit ini menyerang bagian insang dan badan bagian luar. Gejalanya adalah tutup insang keriput, tubuh ikan bengkok, dan pertumbuhannya lambat.
Munculnya penyakit ini dipicu oleh kualitas pakan yang jelek atau pakan yang sudah tercemar jamur. Karena itu, penyakit ini dapat diobati dengan mengganti pakan yang lebih berkualitas dan memberikannya dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan.
Kembali ke Daftar Isi

2. Kejenuhan gas

Penyakit ini disebabkan oleh kandungan nitrogen, oksigen, dan karbondioksida di dalam air kolam terlalu jenuh. Bagian yang terserang adalah kulit, mata, dan insang. Penyakit ini lebih banyak menyerang benih gurami. Gejala klinis yang timbul pada ikan yang terkena penyakit ini adalah timbulnya gelembung udara di bagian kulit, mata, dan insang. Penyakit ini tidak menular, tetapi jika tida ksegera diobati akan menyebabkan gangguan kronis. Penyakit ini dapat diatasi dengan cara mengganti air atau meningkatkan kualitas air kolam.

3. Kekurangan oksigen

Penyakit ini disebabkan oleh oksigen terlarut di dalam air rendah. bagian yang terserang adalah organ tubuh bagian dalam (paru). Penyakit ini menyerang gurami dari semua golongan umur. Gejala klinis yang muncul adalah gurami sering membuka tutup insang dan berkumpul di permukaan air. Munculnya penyakit ini dipicu oleh pertumbuhan plankton yang berlebihan dan kadar bahan organik terlarut sangat tinggi. Oleh karena itu, cara mengatasinya dapat dilakukan dengan memperbaiki kualitas air, mengurangi bahan organik, dan mengurangi kepadatan ikan.

Sumber > 1001budidaya.com